Kamis, 04 Desember 2014

Mr. Gigi ( Mr. G )

Memang kesehatan itu adalah nikmat yang sangat tidak ternilai, termasuk gigi yang sehat. Ada satu gigi yang sedang menguras emosi dan perasaan, sedihnya uang didompet terkuras juga. Sebut saja gigi tersebut Mr. G

Singkat cerita, dahulu ketika Mr. G tersebut mulai cenut-cenut karena ada lubang, sang empunya Mr.G pergi ke dokter gigi, alih-alih pergi ke dokter gigi yang bagus, Mr. G dibawa ke Puskesmas, dengan pertimbangan kondisi dompet yang sedang membawang ( tahu kan persamaan bawang sama dompet tanggal tua? yups, sama-sama membuat nangis kalau dibuka )
Asli, yang namanya di Puskesmas itu gak enak banget perawatan giginya, sudah mendekati kejam juga sih.

Bayangin saja, kalau di dokter swasta, itu dokter kan asistenya 2 orang. Nah di Puskesmas ini, yang megang justru asistenya. yang namanya asisten kan gak punya pembantu, jadilah dia single fighter melakukan perawatan yang seharusnya dikerjakan oleh 1 dokter dan 2 asisten. Yang paling gak enak itu, kalau di dokter gigi swasta air untuk kumur-kumur selalu tersedia. Ludah di mulut juga senantiasa disedot tuh pakai selang. Nah, pas Mr. G itu dirawat di Puskesmas air buat kumur-kumurnya nggak ada, jadilah empunya si Mr.G menahan segala ketidaknyamanan di mulutnya itu tanpa bisa kumur-kumur. Ludah yang ngumpul, karena nggak disedot akhirnya ditelan lagi kan, lumayan biar nggak haus. Untung aja nggak sampai muntah-muntah. Trus pas nambal lubangnya itu, mungkin karena terlalu semangat, tuh tambalan kemontokan, jadinya kan ngganjel. Pas dibilang kalau ngganjel, langsung aja tuh tambalan di "gerinda". Asli, gak tahan bener, pengen muntah rasanya ( efek nelan ludah).

Skip skip, setelah perawatan yang ternyata juga nggak murah-murah amat, hanya beda-beda tipis aja kalau sama dokter swasta, beberapa bulan setelahnya ( nggak sampai setahun ) ternyata tambalanya bochor eh bochor. Alhasil Mr. G jadi kenyut-kenyut lagi tuh.

Trauma dengan Puskesmas, akhirnya kembali lagi ke dokter gigi yang ada asistenya.

Seenak-enaknya dirawat dokter gigi, walaupun dokternya cantik, lebih enak kalau giginya sehat. Nggak usah antri lama-lama ( berangkat jam 3.30 sore, pulang jam 7 malem - pegel vroh..) Nggak usah pula ngerasain ngilu pas gigi di bor, atawa mual-mual karena mulutnya nganga bermenit-menit. Belum lagi sekarang biayanya semakin membuat dompet tipis.

Untuk Gigi yang berlubang ada 3 tahap perawatan:
1. Gigi yang sakit di bor dikasih obat, sekaligus dimatikan, ditambal sementara
2. Gigi harusnya sudah mati, tambalan dibuka terus dibersihkan, dikasih kapas atau apalah, trus ditambal sementara
3.  Tambalan dibuka, kapas diperiksa, kalau masih bersih dan tidak bau bisa langsung ditambal dan selesai, tapi kalau masih bau dan kotor, proses nomor 2 diulangi lagi.

Setiap proses berjarak satu minggu, jadi kebayang kan, setiap hari Sabtu terakhir ini, Mr. G bolak balik dibawa ke dokter, mengantrinya lamaaaaa banget. Sudah sampai proses ke 2, cuma ada sedikit kesalahan, pulang dari klinik langsung dihajar Nasi Goreng petai, alhasil tambalan sementara lepas dan Mr.G langsung kenyut-kenyut. Dokternya sih bilang, kalau ada apa-apa dibawa balik saja. Tapi itu kan baru beberapa jam dok, nggak enak juga kan kalau harus nganga lagi. Minggu depan sajalah, kalau diulang ya diulang, test saja ada remidinya kok.

Feelingnya sih, bakal diulang lagi nih proses yang ke dua. Hwfffffft

Intinya, kesehatan itu tidak ternilai, entah kesehatan jasmani, rohani atau gigi, jadi jagalah. Dan syukurilah apa yang masih dikaruniakan saat ini. Walupun mungkin bolong-bolong, setidaknya kan masih bisa ditambal, masih lebih baik daripada ompong. Karena gigi yang ompong, terutama gigi bawah akan membuat gigi yang atas turun. Kalau sudah turun bagian saraf gigi akan terekspos, itu yang bikin gigi ngilu. Dan info seperti ini, yang seharusnya disampaikan ke pasien, kadang -kadang terlewatkan. Nyesel juga kenapa dulu geraham bawah langsung dicabut, padahal masih bisa ditambal. Tapi Alhamdulillah, Mr.G masih punya sederet kawan di mulut dengan kondisi sehat. Cepat sembuh ya Mr. G, love u. Thank you Allah for give me healthy, Alhamdulillah

Teguh Ujianto

Senin, 24 November 2014

Chapter of life: "KEHILANGAN"

Siang hari tadi, ada obrolan dengan seorang teman, tentang sekilas gambaran masa lalunya. Bagaimana dulu hidupnya pernah bahagia, punya istri, anak, sudah punya rumah walaupun sederhana di Medan.

Lantas dia mengalami episode kehidupan yang bernama " kehilangan "

Hilang pekerjaanya sebagai sopir truck pengangkut container di Bau-bau karena kecelakaan yang mengakibatkan dia sempat ditahan, dan sampai kini SIM miliknya masih ditahan pihak kepolisian. Berpisah dia dengan istrinya karena istri yang dikenalnya saat bekerja di Malaysia itu kembali memeluk agama Kristen. Berpisah dia dengan putrinya yang saat ini berusia sekitar lima tahun.

Hilang sudah semuanya itu, mungkin titik nadhir kehidupanya adalah ketika dengan hati hancur hanya dengan pakaian yang melekat dibadan, dia pergi dari istana kecilnya, meninggalkan anak dan istrinya di Medan, pulang ke Buton.

Kita tak akan bisa memahami bagaimana perjalanan batinya mengiringi perjalanan pulangnya itu. Dibantu oleh beberapa teman sopirnya, dengan memberi tumpangan dari Medan ke Jakarta, dan memberi uang saku untuk tiket kapal dari Jakarta ke Bau - Bau.

Dari titik nolnya, dia bangkit. Cerita bagaimana dia bangkit inilah yang layak aku jadikan pelajaran. Bahwa aku masih sangat-sangat disayang olehNya, dengan masih diberi banyak sekali rizky dan  "titipan". Jadi rasanya memalukan sekali kalau jadi galau gara-gara hal yang kecil, yang bisa membuat diri lupa bersyukur atas hal yan besar.

Alhamdulillah

Teguh Ujianto

Pengalihan Energi

Dulu sempat galau berat ketika masih menjadi mahasiswa di Atika ( Akademi Industri Kayu ) yang sedang mengalami peralihan menjadi STTDNU ( Sekolah Tinggi Teknologi dan Desain Nahdatul Ulama ), sekarang sudah menjadi UNISNU Jepara

Bayangkan saja, kuliah nggak jelas, nggak punya kelas, karena gedungnya sedang dibangun, dosennya jarang datang, sehingga kuliahnya sering kosong. Jauh-jauh dari Batang ke Jepara hanya untuk lontang lantung nggak jelas, menghabiskan uang saku dan waktu.

Dan ternyata banyak juga teman-teman mahasiswa satu angkatan yang ikut galau. Fenomena galau massal ini terdeteksi oleh Pak Dosen,  Zainul Arifin MA. Beliau kemudian menawarkan solusi cerdas anti galau berupa kegiatan olah nafas.

Dan kegiatan tersebut memang lumayan mujarab ( untuk saya pribadi ), karena waktu yang mubazir jadi bermanfaat.

Fokus memang bagus, tapi terlalu fokus bisa kurang baik, karena jadi abai terhadap hal lain. Terlalu fokus dengan masalah yang dihadapi akan mengaburkan nikmat lain yang seharusnya bisa dinikmati dan disyukuri. Galau itu juga timbul karena fikiran terlalu fokus hanya di hal yang kurang enak.

Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang salesman selain gagal menjual, apa yang bisa membuat seorang manager pusing selain gagal merencanakan, mengelola dan mengatur, apa juga yang bisa membuat seorang desainer merasa sedih selain berhenti berkarya. Banyak pertanyaan dan banyak jawabanya. Ada begitu banyak hal yang akan terasa lebih berat jika kita tanggung, namun sebenarnya lebih banyak hal lain yang sebenarnya bisa meringankan beban tersebut.

Ketika hendak beranjak tidur, panjatkanlah doa, serahkanlah segala urusan kehidupan dan kematian kepadaNya. Dan ketika bangun dikeesokan harinya, bersyukurlah, nikmati apa yang Dia berikan hari ini, jalani hari dengan penuh syukur, agar jalan kita lapang.

Look around you, and find unlimited happiness blessed for you

Teguh Ujianto

Rabu, 19 November 2014

Bangkit!!

"Meski kehidupan sering menjatuhkan kita, tapi kita harus yakin bahwa selalu ada kesempatan untuk bangkit"

Entah dari mana temanku, Arya mendapat kalimat itu. Tapi setidaknya, menurutku kalimat itu adalah kalimat terwaras yang terucap diantara racauanya hari ini. :)

Hari ini Arya begitu baik, selain sudah memberi kalimat sakti, pagi tadi setelah mengambil keramik bekas di Gunung Bakaran, dia juga mentraktir aku Mie Ayam depan terminal Batu Ampar, terimakasih mas Bro!

dengan Pak La Ode Ilos
Tentang jatuh dan bangkit lagi, aku harus banyak belajar banyak dari pak Ilos, tentang bagaimana dia jatuh dan bagaimana dia bangkit. Bagaimana kegagalan itu bisa menjadi sesuatu yang bisa menjadi pelajaran dan pada akhirnya bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain agar tidak terjatuh dilubang yang sama.

Hari ini memang luar biasa, selain bro Arya, ada juga Dedy Mayong yang memberi kabar gembira, bahwa dia sehat dan baik-baik saja. Bukankah sehat dan baik-baik saja itu menggembirakan?

Teguh Ujianto

Minggu, 09 November 2014

Tunas dan Daun Kehidupan

Balikpapan pagi ini diguyur hujan gerimis, sampai agak siang cuacanya masih sangat syahdu.
Di salah satu sudut sebuh lahan yang sedang dibangun workshop mebel, berdiri sebatang pohon sukun. Akarnya sudah dipotong, daun-daunya sudah dipangkas, menyisakan sehelai di salah satu dahan rantingnya. Memang oleh pemilik lahan tersebut si pohon sukun hendak dimatikan.


Namun siapa peduli, pohon tersebut tetap menunjukan detak-detak kehidupanya, batangnya tetap berdiri, dan daunya yang selembar itu juga masih tetap hijau. Ketidakpedulianya akan usaha manusia untuk menghabisi, merampas hidupnya itu membuat mataku berkaca-kaca. Si pohon sukun bahkan  tetap bertunas, bersiap menumbuhkan daun baru, dia tetap tegar meski batangnya sudah dipotong, akarnya sudah dipotong. Yang dia lakukan, selama Tuhan masih memberinya kemampuan untuk bertunas, maka dia akan tetap bertunas. 

Dia tak peduli apakah nanti siang dia akan dirobohkan, apakah besok dia akan tumbang. Yang dia lakukan hanya menjalani apa yang bisa dia lakukan, menjalani kehidupan yang Tuhan masih berikan, saat ini. Tanpa peduli besok seperti apa, tanpa peduli dengan " siksa " yang dilakukan manusia kepadanya.


Pohon sukun seolah berkata " Kalian manusia boleh melakukan segalanya untuk membunuhku, namun selama Tuhan masih mengizinkan dan memberiku hidup, maka aku akan hidup"

Terimakasih pohon sukun, engkau seperti ayat Tuhan yang ada untuk kubaca, sampai hantaman kapak terakhir menumbangkanmu, tetaplah tegar ditempatmu, tetaplah tumbuhkan tunas daunmu.

Hiduplah..

Teguh Ujianto

Jumat, 07 November 2014

Perjalanan Panjang Mencari Ketenangan Hati

sumber
Mungkin obat bagi segala penyakit itu sudah Allah siapkan di tempat yang sayangnya kita tidak tahu dimana, sampai suatu saat tiba-tiba saja kita menemukanya.

Salah satu penyakit ( penyakit psikis ) adalah bingung atau yang saat ini terkenal dengan istilah "galau"

Aku sendiri sering sampai seumur ini masih sering dilanda galau kok bro..

Saat teman-teman yang lain sudah berjalan dibidangnya masing-masing, aku justru masih meloncat kesana kemari mencari-cari. Yang dicari apa juga aku bingung bro, tidak bisa jawab aku ini sedang mencari apa.

Nah, dulu pada waktu di Jepara, pada saat galau karena sibuk berlari kesana kemari itulah, aku mendapatkan sedikit obat penenang hati dari Cak Mus, seorang tukang cukur rambut yang "workshopnya" ada di daerah tahunan - Jepara.

Pelajaran ini bermula ketika aku bertanya, kenapa Cak Mus tidak mencoba usaha mebel - karena menurutku usaha mebel itu uangnya lebih banyak, dibanding usaha potong rambut.

Redaksional yang pasti untuk jawaban Cak Mus mohon maaf sudah lupa, tetapi yang dapat saya pahami adalah " bahwasanya semua orang sudah mempunyai jatah rizkynya masing-masing, mengejar sesuatu yang bukan rizky kita itu yang membuat hidup jadi tidak bahagia. Ingin kaya agar hidup bahagia, padahal hidup bahagia itu bukan berarti karena kayanya. Karena banyak sekali orang kaya yang hidupnya justru tidak bahagia.

Lantas seperti apa kita harus menyikapi hidup?

Mensyukuri apa yang telah Allah anugerahkan, dengan cara "berbahagia" dengan apa yang sudah kita miliki, menekuni bidang usaha/pekerjaan yang kita kuasai tanpa  harus "kemilikan" dengan usaha lain. Karena Jalan usaha itu memang bisa ditiru, tetapi rizky masing-masing orang itu sudah ada jatahnya sendiri-sendiri.

Lebih jauh lagi, mengertilah untuk apa kita hidup?

Kita hidup untuk mencari keridho'an Allah, jadi jika ada usaha yang utama kita harus lakukan adalah untuk mengenal Allah, agar bisa tahu bagaimana kita bisa mendapatkan ridhoNya"

Kurang lebih seperti itulah yang bisa aku serap, dari Cak Madura aku belajar untuk tidak bingung, karena rizky sudah ada jatahnya masing-masing. Dan aku belajar untuk bisa berbahagia dengan keadaanku saat ini, sebagai usaha untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.

Teguh Ujianto

God, I am ready now..

"God, thank you for giving me my life. I am ready now"  itulah kata yang keluar dari mulut Pi Patel seorang pemuda kurus yang harus bertahan hidup selama 227 hari, didalam sekoci penyelamat bersama seekor harimau Bengal bernama Richard Parker ( kisah di Film Life of Pi ).

Pi berjuang dan berjuang berbulan bulan, hidup dalam situasi yang luar biasa, kalau boleh dibilang menderita dan dalam keadaanya yang benar-benar sudah tidak berdaya, barulah terucap kata tersebut. Ucapan syukur atas kehidupanya, dan ucapan pasrah untuk menerima apapun takdir Tuhan yang akan diterimanya kemudian.

Ya Allah..Terimakasih, segala puji hanya untukMu

Terimakasih Engkau masih memberiku kesempatan untuk bisa bersyukur,
Apapun yang akan terjadi nanti, hambaMu ini hanya bisa berserah diri
Karena hidup dan matiku, adalah mutlak kuasaMu

Teguh Ujianto
@omahjatibalikpapan

Rabu, 05 November 2014

Kenapa Aku Di Sini?

Pertanyaan berikutnya adalah, kenapa aku di sini?

Bahwa pasti ada alasan kenapa aku berada di tempat ini - Balikpapan, ada di posisi sekarang ini - di Omah Jati, maka harus kucari, kubaca dan sadari untuk apa aku ada di sini.

Jika sudah diawali dengan niat untuk belajar, maka pelajaran apa yang bisa didapatkan di tempat ini?

Pak JokSus

Dari Pak Joksus - Manager RBS aku belajar tentang kepemimpinan, bahwa tak harus berbadan besar untuk dihormati oleh "anak buah" atau kita sebut saja crew, yang aku pelajari bahwa Pak Joksus begitu sayang dengan semua crew di RBS ( perusahaan satu atap dengan Omah Jati ), Wujud sayang itu begitu luas yang dia sampaikan lewat perkataan, perbuatan dan ketulusan sikap sehari-hari. Ada transfer energi yang luar biasa dari lelaki imut yang satu ini.

Kegembiraan, keceriaan, semangat, motivasi dan transfer ilmu serta "kedermawananya" membuat semua crew di RBS jadi sayang denganya. Dan dari rasa sayang itu munculah sikap hormat, patuh, kompak loyal dan semangat tinggi yang menjadikan crew RBS mempunyai etos kerja yang bagus.

Dari Crew RBS aku belajar, tentang semangat untuk belajar, bekerja dan berkehidupan dengan tanpa terbelenggu oleh materi. Ada banyak kebahagiaan yang selama ini hilang karena hitung-hitungan materi sudah lebih dulu memudarkanya.

Aku belajar untuk lebih mensyukuri segala nikmat dariNya, agar ketika bangun di pagi hari hati ini terasa gembira, ringan, lepas dari segala beban.

Sakdermo ngelampahi, bahwa hidup itu adalah untuk menjalani apa yang sudah Allah takdirkan

Bro Arya

Dari sikap saling menyayangi antara Pak Joksus dengan semua crew RBS ini, maka situasi internal di RBS terasa sangat kekeluargaan. Walau ada intrik, ada kecemburuan ada perselisihan namun sejauh ini semuanya masih terasa sebagai bumbu yang bisa saling melengkapi dan menambah rasa manis dalam keseharian di RBS.

Keteguhan untuk menjalani apa yang sedang terjadi dengan tetap berbahagia ( syukur ), membuat saya yakin bahwa kelak entah kapan waktunya, Pak Joksus, Bro Arya, Pak Yul, Mas Andre, Pak Heru dan Mbak Maya akan menuai hasil dari proses belajarnya hari ini, mereka muda dan bersemangat, selalu tebarkan semangat dan kebahagiaan ke semua orang yang juga sedang belajar tentang kehidupan.

Dan semoga kalian juga terus belajar agar semakin bahagia dengan semua anugerah yang Allah karuniakan.

Aku sendiri masih mencari, apalagi yang bisa aku pelajari disini, buka mata, buka hati, wait and see..

Teguh Ujianto
@omahjatibalikpapan

Minggu, 26 Oktober 2014

Anarkisme Air

Dalam Novel tere-liye " Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, tokoh Ray ( Raihan ) sangatlah beruntung bisa diberi jawaban atas lima pertanyaanya, sementara dalam kehidupan nyata masing-masing orang harus mencari sendiri jawaban atas pertanyaan tersebut.

Seperti malam kemaren, ketika saya sedang menikmati  tahu tek pedas di Pasar Buton Batu Ampar Balikpapan, tiba-tiba muncul pertanyaan, apa yang sedang saya lakukan? Kenapa mau tetap di Balikpapan, sementara sekarang sedang musim sulit air, bahkan bisa dilihat di website resmi PDAM kota balikpapan, tentang kemungkinan Balikpapan mengalami " Kiamat Air " jika sampai pertengahan November hujan belum juga turun.

Apa yang sedang aku lakukan?

Jawaban pertanyaan tersebut ternyata muncul saat air kembali mengucur deras dari keran kamar mandi, memang terkadang untuk bisa merasakan lezatnya makanan, perut harus dipuasakan terlebih dahulu. Barangkali sudah terlalu enak kehidupan orang - orang Balikpapan ini, sehingga melupakan untuk mensyukuri segala kenikmatan yang sudah diterima. Diantaranya nikmat dalam hal mendapatkan air bersih.

Sulit air ini ternyata juga mengalihkan fikiran dari berbagai galau akan masa depan, angan jangka panjang tidak akan dimiliki oleh orang yang sulit air, fikiranya hanya terfokus dengan kondisi terkini saja, energinya begitu luar biasa. Di bayangan saya yang mudah-mudahan tidak akan terjadi, jika air di Balikapan ini sudah menghilang sama sekali, maka kemarahan orang-orang ini bisa berubah menjadi anarkisme yang berujung pada penjarahan air. ( Survival Mas Bro, daripada gak bisa masak dan mandi ), dalam skala kecil "penjarahan" ini sudah terjadi.

Di salah satu bagian di buku Keledai Syaikh Juha - Penerbit Navila , dikisahkan tentang Syaikh Juha yang memberi nasihat hidup kepada seseorang yang datang ke rumahnya.

Orang tersebut mengeluh tentang keributan di rumahnya, maka nasihat Syaikh Juha yang pertama adalah justru untuk "menambah" sumber keributan dirumah tersebut. Tentu saja kondisi orang tersebut semakin berat karena rumahnya semakin ribut. Kondisinya lebih parah dari pada sebelumnya.

Ketika seminggu kemudian orang tersebut datang Syaikh Juha memberi nasihat kedua yaitu untuk "menyingkirkan" sumber keributan yang dulu ditambahkan atas perintah Syaih Juha. Dan ternyata dengan kondisi yang kembali seperti sediakala ( dengan segala keributanya ) akan terasa lebih indah karena orang tersebut sudah mengalami " keributan " yang lebih parah.

Saat ini saya tidak yakin sedang ada diposisi yang mana, apakah diposisi mengeluh karena sulit air, atau sudah merasa lega karena sesulit apapun saat ini, kemaren saya sudah meraasakan bagaimana rasanya hidup dengan air yang "limited".

Pertanyaan lainya, piye perasaanmu bro, yen nyawang waduk cadangan air kotamu wes karek setambak ngene? nek aku rapopo bro...hiks hiks

Teguh Ujianto
@ Omah Jati Balikpapan

Rabu, 08 Oktober 2014

Target Bulan ini " Mensyukuri apa yang telah diterima"

Tidak muluk-muluk, syukur itu saja mungkin yang harus banyak-banyak dilakukan. Karena dengan syukur itu diri ini bisa diingatkan akan banyaknya rizky, banyaknya nikmat yang diterima.

Mungkin hati ini sedang ingin berpaling dari masalah dunia yang menyesakan dada, saat ini. Namun tidak mengapa, almarhum ayah dulu mengajarkan tentang berlatih, riyadloh. Kalau sekarang kondisinya berat dijalani, tetaplah bersyukur agar hati tidak kufur akan nikmatNya, anggap ini latihan kalau-kalau nantinya mau berjuang sendiri, tanpa ikut orang lain.

Hati bersyukur, lisan bersyukur, dan selalu membawa syukur dalam setiap nafas perbuatan sehari-hari. Dan satu lagi, jangan Marah!!

Teguh Ujianto

Sabtu, 20 September 2014

Blog Yang "jangan" Terlupakan

Sudah sekian waktu sejak memulai perjalanan di Jawa, saya berhenti sejenak memposting tulisan di blog ini. Bukan berarti berhenti menulis, catatan tersebut lebih banyak ditulis di buku.

Diantaranya tentang bagaimana galaunya hati ini, saat menghadapi situasi yang benar-benar menguras emosi. Tentang kemurahan hati, kesabaran, keihlasan orang-orang di Jawa sana.

Sejenak menulis di blog yang menjadi pelampiasan perasaan berhenti, perasaan yang mengharu biru itu saya simpan sendiri. Entahlah apakah nantinya kisah tersebut akan mampu saya bagi disini, atau akan selamanya tersimpan untuk diri sendiri saja.

Sedikit cerita adalah ketika di suatu siang sengaja datang dari Bawu ke Gemiring Lor hanya untuk bertanya kepada Dedy - teman masa kuliah dulu-, tentang cara, bagaimana dia bisa memenangkan hatinya untuk tidak tergoda dengan berbagai pencapaian teman-temanya, dan tetap menekuni apa yang sudah menjadi keahlianya, menyungging. 

Pertanyaan ini muncul karena saya mendapati diri ini seperti laron yang beterbangan kesana kemari, kebingunan karena mengejar cahaya fatamorgana kesana kemari. Tergoda untuk mencoba peruntungan baru, pekerjaan baru. Namun begitu dijalani ternyata tidak lebih enak dari yang lama, oleh karenanya tergoda lagi untuk mencoba yang lain lagi. Than what? ketika kita kaya apakah hidup akan bebas masalah? cobalah lihat, berapa banyak orang kaya yang justru susah hidupnya, tak tenang tidurnya. 

Obrolan yang menjadi panjang, yang pada akhirnya mendapat jawaban bahwa sebenarnya dia, jauh didalam hatinya, perasaan untuk bisa seperti rekan-rekan yang lain juga ada, ingin merasakan pencapaian-pencapaian lain. Akan tetapi mensyukuri apa yang sudah ada, dan menekuni apa yang menjadi keahlian dan kegemarannya justru bisa menimbulkan kebahagiaan dalam hidup itu sendiri. Tanpa perlu bersusah payah mengejar-ngejar sesuatu yang belum tentu itu rizky kita, dan kalaupun bisa didapat belum tentu hal tersebut baik untuk kita.

Ketenangan hati Dedy, Pa'e, dan Cak Mus sebagai contoh adalah cermin yang semoga bisa selalu mengingatkan aku bahwa, kebahagiaan itu masih akan ada walau ditengah kemiskinan dan kesusahan, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Dan di balik wajah yang terlihat bahagia, bukan tidak mungkin ada duka juga dihatinya. Manusiawi kan?

Pa'e
Teguh Ujianto

Sabtu, 31 Mei 2014

Ujian Hidup ; Ujian Praktek SIM C

Sejak kemaren, Senin 19 Mei 2014 kepala ini dibuat puyeng. Urusan membuat SIM C baru di kantor polisi Balikpapan sungguh menguras energi dan kesabaran.

Pagi hari sekitar jam 10.00 WITA, landing di pelataran Purwa, celingukan kesana kemari, bingung kemana dulu ini mengurus SIM nya, karena bingung dan berhubung perut keroncongan karena lapar, akhirnya Mie ayamlah yang dituju. Nanya ke abang tukang Mie Ayam, dapat penjelasan yang sangat berharga bahwa tempat yang harus saya tuju pertama kali bukanlah di Purwa ini, tetapi di Apotek Anda. Minta surat keterangan dokter untuk mengurus SIM ( biaya 20 rb )

Kemudian surat tersebut disertai selembar fotocopy KTP Balikpapan diserahkan ke loket BRI yang letaknya diujung dan pojok. ( di atap ada tulisan BRI gede ). Setelah membayar 100rb diloket BRI, berkas-berkas diserahkan ke loket 1 untuk mendapatkan formulir permohonan pembuatan SIM, setelah input data di formulir, lanjut ke loket 2,

Diloket ini formulir dikembalikan karena kurang foto dan sidik jari, maka meluncurlah saya ke bagian foto dan sidik jari ( manual ) yang lokasinya ada diujung lain dari Purwa. Biaya foto dan sidik jari 25rb. Diloket 2 menunggu agak lama, diloket ini kurang jelas apa keperluanya, mungkin memeriksa kelengkapan berkas dan cek data.

Lanjut kemudian lanjut ke loket 3 and guess what, loket 3 ini juga untuk foto & sidik Jari ( cuma yang diloket 3 pakai mesin scan sidik jari, mungkin untuk memcocokan kali ya sidik jari manualnya dah cocok atau belum ). Di loket 3 ini antrinya luar biasa lama

Setelah lolos di loket 3, masuklah kita di loket 4; Ujian Teori
Sebelum saya ujian sempat Sholat Dzuhur di Mushola, sudah siang saat itu sekitar pukul 13.45 WITA
Di loket 3 sempat mendengar bahwa hari ini pelayanan memang agak lambat karena ada masalah jaringan.

Setelah menjawab 30 soal, langsung tertulis dimonitor bahwa saya lulus ujian teori. Alhamdulillah

Perasaan lega itu muncul, tapi mungkin hanya beberapa detik, karena bapak Polisi yang mengawasi ujian teori menyerahkan kembali berkas permohonan disertai print hasil ujian teori dan memberi tahu bahwa kami yang lulus masih harus ikut ujian praktek di keesokan harinya di Sekolah Polisi Negara.

Besok?? setelah dari pagi sampai sore begini ternyata masih ada besok?? dilokasi berbeda yang letaknya juga tidak tahu ada dimana.

Perasaan tidak enak langsung muncul. Ujian Praktek?? seperti apakah itu, bisakah lolos ujian itu?.

--00--

Selasa pagi 20 Mei 2014, diwaktu yang kurang lebih sama, pukul 10.00 WITA diiringi gerimis rintik-rintik. Akhirnya sampailah diri ini dilokasi ujian praktek SIM C

Karena baru ada 3 orang, maka ujian dilakukan cepat. 3 kali mencoba melewati rintangan. Dan 3 kali kesempatan pada saat test. dan kami 3 orang gagal semua. Memang masih ada kesempatan untuk mengulang tanggal 27 Mei nanti, dan sekali lagi ( total 3 kali ) sebelum dinyatakan gagal.

Tetapi melihat dari sulitnya ujian praktek ini, harapan memiliki SIM rasanya sudah tidak ada.

Tapi, yakinlah, disetiap kesusahan pastilah ada jalan keluarnya. Dan entah aku benar entah salah, yang terbayang adalah para " calo " yang mungkin bisa membantuku bisa memiliki SIM tanpa harus Ujian Praktek ( Ampun pak Polisi, nyerah aku kalau disuruh ujian lagi ).

Tetapi dimana aku bisa menemukan para pasukan penolong itu? Lha kemaren ngurus di Purwa seharian saja nggak ada yang nawarin barang seorang. Where are you Dude? I need you

Para " calo " tersebut bagi saya saat ini seperti malaikat yang ternyata mereka melakukan pekerjaan tersebut untuk menolong para pencari SIM dari Ujian hidup yang begitu berat. Ujian praktek SIM C !!

Teguh Ujianto

Senin, 19 Mei 2014

Garis Cahaya di Langit Balikpapan


Walaupun mungkin hanya fenomena alam yang normal terjadi, namun garis cahaya yang muncul minggu sore kemaren masih meninggalkan tanda tanya besar, firasat apakah ini.

Perasaan hati makin tidak tenang manakala hari ini, dua calon presiden sudah saling mendeklarasikan diri. Siap bertarung. Sama kuat dengan basis massa yang sama-sama militan.

Perang didunia maya sudah gencar terjadi, saling serang, saling mengorek aib lawan.
Nek coro wong mbatang, wes dadi wong wangkal kabeh.. dikritik sedikit ngamuk-ngamuk, dicomment sedkit gak terima. Akankah pertarungan epik para abdi Ajisaka terulang kembali di tanah Jawa? Dua kubu sama kuat, saling serang, dan pada akhirnya hancur semua.

Dora & Sembada adalah abdi terbaik bagi Prabu Ajisaka, keduanya bertarung karena ingin menunaikan tugas yang mereka emban. Tugas yang saling bertentangan satu sama lain membuat mereka berdua harus berada disituasi yang saling bertentangan, yang kemudian dilanjutkan dengan peperangan dan pada akhirnya berujung pada kematian. Demikian pula Joko Widodo dan Prabowo, dua putra terbaik bangsa, harus saling mengalahkan untuk bisa merealisasikan idealismenya untuk memajukan bangsa Indonesia ini.

Alangkah indahnya jika para pendekar bangsa ini bisa saling bermusyawarah, untuk kemudian maju bersama berjuang memakmurkan negeri, tanpa harus menunggu menjadi Presiden dulu untuk mengabdi.


Inilah kisah Dora & Sembada itu, yang siapa tahu bisa mengingatkan kita semua untuk bisa saling menahan diri, dan berfikir jernih agar bisa keluar dari situasi ini dengan selamat, tanpa ada korban dikedua pihak.

Teguh Ujianto

Sabtu, 17 Mei 2014

Inspirasi dari Yusran Darmawan @ timur-angin

Inspirasi di Tengah Hujan adalah satu artikel yang diposting di blog angin-timur. Postingan ini bagai obat pelipur bagi kegundahan yang sedang kuhadapi. Bagaimana beliau, Yusran Darmawan mengisahkan pengalamanya menghadapi menghadapi masa-masa transisi,  yang diakhiri dengan kutipan kalimat yang bijak, setidaknya membuat aku bisa sedikit bersemangat malam ini.

Setelah menyadari bahwasanya hati dan kehidupan itu mudah terbolak balik, maka tidak ada salahnya jika kemudian belajar untuk tetap menikmati sambil menjalani prosesnya.

"..., kehidupan adalah belajar menari ditengah hujan lebat "

Mungkin menjadi berani adalah juga salah satu gerakan dalam tarian hujan tersebut. Menari adalah salah satu ikhtiar untuk bisa menikmati proses sampai menunggu hujan tersebut reda.

Setelah diingat-ingat kembali, ternyata ada banyak sekali contoh orang yang bisa tabah menjalani ujian dalam kehidupanya, mereka tetap berjuang, bertahan dan pantang menyerah. Mereka yang papa-pun masih bisa tersenyum, tertawa dan bahagia, walau tidak selalu. Ya manusiawi lah, yang penting masih tetap bisa menikmati hidup.

Jangan Menyerah, tetap semangat dan menarilah meski ditengah hujan lebat


Sumber Inspirasi ; http://www.timur-angin.com/2014/05/inspirasi-di-tengah-hujan.html

Teguh Ujianto

Selasa, 13 Mei 2014

Hati yang Terbolak-balik

sumber ; http://drise-online.com/wp-content/uploads/2013/06/gelisah.jpg

Memang kuasa Tuhan itu untuk semua hal, termasuk urusan membolak balikan hati. Baru kemaren bisa menikmati hidup dengan rasa tentram, tanpa ketakutan. Hari ini sudah ketakutan lagi, takut tidak bisa mencukupi kebutuhan bulanan untuk bulan depan.

Karena sudah beberapa hari tidak masuk kerja, tentu bulan ini pendapatan akan berkurang. Padahal pengeluaran tetap berjalan. Rasanya jadi kebat-kebit membayangkan bagaimana menutup pengeluaran tersebut nanti.

Walaupun dengan khawatir seperti inipun belum tentu masalah bisa selesai, namun dengan membayangkan kondisinya saja sudah sukses membuat hati menjadi tidak tenang.

Ujung-ujungnya hanya bisa pasrah, dan berdoa. Agar bisa segera diberi jalan ikhtiar, agar bisa diberi jalan keluar dari rasa was-was ini. Karena benar adanya, ketakutan menjadi miskin, sengsara dunia itu bisa mengalahkan ketakutan akan dosa, sehingga jika lalai bisa-bisa tergelincir melakukan perbuatan dosa hanya untuk menutupi kebutuhan dunia saja. Naudzubillah

Baru menjadi pengangguran beberapa hari saja rasanya sudah seperti ini ya, padahal bulan depan juga sudah mulai kerja lagi, apalagi mereka yang lama hidup dalam kekurangan. Ya Allah tolong kami, amiin.

Teguh Ujianto

Senin, 12 Mei 2014

Be Brave!!

sumber; http://desaindigital.com

Pesan yang ada pada tulisan terdahulu; Courage , ternyata belum benar-benar saya lakukan. Terlalu banyak hari yang saya lalui dalam ketakutan, hingga untuk resign saja harus menunda sampai berbulan-bulan. Terlalu banyak pertimbangan justru akan mengikis keberanian dalam hati, yang pada akhirnya membuat kita jadi penakut.

Sampai pagi ini, tiba-tiba rasa berani itu muncul. Mengalahkan logika.

Secara aturan, walaupun sudah resmi mengundurkan diri, tetapi faktanya sebagai karyawan saya masih harus berangkat kerja selama satu bulan sejak tanggal resign tersebut. Padahal perasaan hati sudah sangat tidak nyaman. Beberapa hari saya ijin dengan berbagai alasan. Tetapi hari-hari ijin tersebut saya lalui dengan perasaan tidak enak. Ada ketakutan dalam hati, bahwa nantinya ada efek buruk dari apa yang saya lakukan.

Tetapi tidak pagi ini, saya sampai kepada saat dimana saya menyadari bahwa hidup saya sudah terlalu banyak diisi dengan ketakutan.

Dan agar hidup yang hanya sebentar ini tidak lagi diisi ketakutan, maka yang dibutuhkan hanyalah keberaanian. Be Brave! dan mari menunggu apa yang akan  terjadi

Pagi ini saya "bolos" dengan perasaan tidak bersalah ( walau secara aturan mungkin salah ). Saya isi pagi dengan berolahraga, dan menulis tentang perasaan yang bagus ini. Perasaan abai dengan segala kemungkinan yang akan terjadi hanya akan muncul jika ada keberanian dihati. Jika keberanian itu hilang, maka yang ada hanya kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan.

Hmmm, entahlah. Saya hanya ingin menikmati perasaan ini sekarang. tanpa merasa ada beban berat dikepala. Indahnya menjadi berani.

Teguh Ujianto


Kamis, 08 Mei 2014

Bekerja Karena Allah

Pernahkan anda kecewa, karena tidak ada rewards dari bos atas hasil kerja anda selama ini?
Jika jawabanya iya, berarti harus ada yang dirubah. Bos hanyalah sesama mahluk Allah, tidak bisa kita berharap darinya. Kalaupun ada yang kita terima dari dia, itu hanyalah jalan rizky dari Allah

Jadi cukuplah kita bekerja, dengan niat mengharap ridho-Nya, lakukan hal baik yang terbaik, dan bersabarlah. Menunggu rewards yang sebenarnya, dari-Nya.
Jadi jika semangat kerja menurun, niatilah bekerja mengharap ridho-Nya . . Insya Allah ada jalan

--00--

Balikpapan, Senin 05 05 2014
Mungkin memang sudah jalan dari-Nya, bahwa saya baru bisa menyampaikan pengunduran diri saya pada hari Senin tersebut. 

Setelah hampir 3 tahun bekerja, seperti inilah endingnya, apapun itu saya berusaha sepenuhnya mengembalikan kepada Yang Maha Kuasa. Bahwa ini sudah takdir yang harus saya jalani. Apapun yang nanti akan terjadi, harus diterima.

Hanya bisa berdoa, semoga segalanya bisa lebih baik dari yang sebelumnya. Agar tidak termasuk insan yang merugi apalagi yang celaka. Amin

Teguh Ujianto

Kamis, 17 April 2014

"Menonton" Jokowi vs Prabowo

Nyalain TV beritanya Jokowi & Prabowo
Lihat diinternet juga kebanyakan Jokowi & Prabowo
Jadi ya sudah sekalian dinikmati saja, sambil makan gorengan anggap saja nonton film

Dan hari-hari terakhir ini filmnya sudah masuk chapter kesekian dengan cerita yang semakin menegangkan.

Fakta dilapangan, dari dua orang sopir yang saya tanya ( satu sopir taxi di Jakarta, dan satu sopir pribadi di Balikpapan ) keduanya mantab mendukung Jokowi. Mau dibeberin fakta-fakta yang menjelek-jelekan juga tetap saja kekeuh, pilih Jokowi. dari 2 orang sumber saya itu, satu orang ( sopir Balikpapan ) mengatakan dia tidak akan nyoblos dipileg ini, nggak penting katanya. Tapi dia mau nyoblos dipilpres nanti.

Nah, fakta ini yang saya lihat tidak diperhitungkan. kebanyakan orang Jokowi effect itu nol besar. Padahal bisa jadi para pemilih menyimpan pilihanya khusus untuk Pilpres saja.

Mari kita tunggu hasilnya nanti, semoga bisa satu putaran, capek juga kalau filmnya kelamaan.

Teguh Ujianto

Tak Semanis Salak Pondoh

Ternyata jualan lewat blog itu tidak gampang, sudah beberapa waktu terpasang diblog, tapi belum ada satupun orang yang menanyakan Abon lele. Hehehe.. Dulu juga sama waktu masih pasang iklan kursus Autocad, nggak laku.

Yang pernah sampai deal itu ya cuma jual jala, itupun jadinya bukan jala ikan yang dibeli, tapi jaring untuk pagar lapangan futsal. Yeah, untung saja jualan abon ini cuma sampingan, jadi urusan dapur masih tetap lancar. Namun bagaimana dengan mas Banu, dialah produsen abon lele ini, yang nafkahnya dan beberapa orang yang membantunya sangat berkaitan dengan omzet penjualan abon.

Mudah-mudahan baik-baik saja, karena saya ini cuma re-seller baru, sementara bisnis abon lele ini sudah jalan beberapa lama, bahkan pernah pameran ke Jakarta & Makassar.

Kenapa saya mau jadi re-seller abon lele ini? Mencari untung pasti, jelas itu. Tapi ada alasan lain yang lebih menggerakan hati, yaitu melihat bagaimana semangatnya mas Banu ini mempromosikan abon lelenya. Pemuda penuh semangat seperti ini sekarang sudah langka, jadi mari kita bantu, dengan membeli Abon Lelenya.

Kalau mau beli langsung sama mas Banu silahkan search di internet dengan kata "Bole Bole", dan.....
lhoh kok yang keluar lagu india, hahaha.

Dari pada repot, klik disini saja.

Teguh Ujianto
( mohon maaf, susah nyari judul-jadi nggak nyambung sama tulisanya )

Rabu, 02 April 2014

Abon Lele Bole-Bole

Teguh Ujianto
Assalamualaikum

Rasanya lebih damai jika menulis, menuangkan ide ide, atau hanya sekedar lelucon & luapan perasaan di blog. Diblog ini lebih tenang, karena pengunjungnya sedikit. Tidak seperti dimedia sosial yang lain, yang selalu berisik.

Dulu media blog ini juga saya pakai jualan, produknya Jala Ikan buatan tangan ( yang buat ayah mertua ). Namun belum pernah dapat pembeli. Jadi saya hapus, tapi kalau ada yang minat atau memang sedang mencari jala untuk menangkap ikan, mungkin bisa saya bantu sampaikan ke ayah mertua untuk dibuatkan.

Pernah juga saya pakai untuk iklan kursus/privat Auto CAD, tapi nggak laku juga, hehe

Sempat juga dagangnya Abon lele, namun ternyata sepi peminat juga :), namun tidak apa apa
mungkin kalau saya yang jualan kurang laku, tetapi dengan memuat infonya di blog yang "sepi pembeli" ini, mudah-mudahan bisa membantu teman yang sedang berjuang di jalanya itu.

Berikut penampakan Abon Lele kemasan 60 gram

Selain rasa original juga ada 5 level pedas. Abon ini non MSG & bahan pengawet. Insya Allah Halal dan yang membuat saya sempat jadi reseller karena rasanya enak dan saya sangat doyan.

Mudah-mudahan dari sedikit orang yang berkunjung keblog ini,banyak yang beli..Amiin

Teguh Ujianto

Seluas Langit Penuh Bintang

Ibunda bercerita, sewaktu masih kecil ketika beliau bangun malam sering diajak keluar rumah oleh Mbah Nurjan untuk sekedar melihat bintang.

Mbah Nurjan memberitahu, dialam kubur nanti jika kita semasa hidup taat kepada Allah, maka insya Allah nanti kuburnya diluaskan, seluas langit penuh bintang. Begitu indahnya

Namun sebaliknya, jika kita ingkar semasa hidup didunia, bisa-bisa kubur kita nanti disempitkan. Menakutkan seperti langit mendung gelap gulita, dengan gemuruh guntur yang menyiksa. Naudzubillah

Jika langit cerah penuh bintang, aku teringat ibu. Semoga kuburmu juga seluas langit penuh bintang itu ibu.

Beliau yang berjuang tanpa sempat menyaksikan hasil perjuanganya. Semasa hidup beliau gigih memperjuangkan pendidikan untuk anaknya, sampai akhir hidupnya. Karena beliau yakin bahwa dengan ilmu anak - anaknya akan bisa hidup lebih mulia.

Setidaknya mama keisha sekarang sudah jadi Guru, dan disetiap ilmu yang dipakainya ada nafasmu didalamnya, yang semoga jadi bekalmu juga ibu, karena ilmunya bermanfaat. Aku juga bisa mencari nafkah dengan ilmu yang aku dapat dari sekolah yang aku bisa sekolah disana karena perjuanganmu. Semoga hal ini juga dihitung sebagai amalmu.

Kami putra putrimu hanya bisa mendoakan, semoga engkau bahagia disana ibu, amin..

Teguh Ujianto


Minggu, 30 Maret 2014

Achmad Ghozali bin Kasbari

Achmad Ghozali bin Kasbari, lahir di desa Sengon, kecamatan Subah Kabupaten Batang - Jawa Tengah tanggal 6 April 1953. Biasa dipanggil Pak Li. Pernah menjadi santri di ponpes Tebu Ireng dan menurut cerita yang pernah beliau sampaikan, berkesempatan menjadi murid  Kiai Idris.

Tidak ada penjelasan dari beliau, apakah yang dimaksud Kiai Idris adalah KH Idris Kamali atau bukan. Jika memang guru beliau adalah KH Idris Kamali, maka sungguh sebuah keberuntungan bisa menimba ilmu dari salah satu ulama besar yang sekaligus menantu dari KH Hasyim Asyari tersebut.
Tentang KH Idris Kamali bisa dilihat disini

Beliau, Pak Li mengisahkan, selama di Tebu Ireng beliau ini ikut mengabdi di ndalem kyai, salah satu tugasnya yang saya ingat karena dipraktekan juga dirumah adalah memerah susu kambing. Mengurus ternak memang sudah tidak asing, karena sejak kecil beliau sudah membantu Mbah Bari merawat sapi. Saya ingat suatu ketika ketika hari raya Iedul Adha, ada sapi qurban yang berontak dan membuat orang-orang ketakutan, dengan mantab beliau mendekati sapi tersebut, memegang tali kekang dan mengelus kepalanya. Alkhamdulillah atas pertolongan Allah, sapi tersebut berubah menjadi tenang.

Beliau ketika mengajar membaca alquran sangat tegas, dengan sistem sima'an. Salah sedikit saja langsung ditegur sampai dipukul kepalanya ( pakai bantal ). Sampai nangis-nangis saya belajar sama beliau ini. Dan beliau menuturkan seperti itulah dulu Kiai Idris mengajarinya. Nggak sampai dipukul, Kiai Idris dehem saja para santri sudah ketakutan.

Oleh-oleh beliau dari Tebu Ireng yang lain adalah Pencak Silat. Beliau bisa menaklukan orang yang menyerangnya dengan hanya tiga jurus ( tarik, banting, kunci ). Dan senjatanya bukanlah pedang, tapi sarung. Banyak cerita mengenai kehebatan ilmu kanuragan beliau ini. Saya pernah minta satu jurus, dan ketika saya praktekan pada saat sambung (latihan) sangat ampuh & mengena dengan telak.

Namun dibalik banyaknya cerita kesaktian beliau, Pak Li hanya hamba Allah yang lemah. Yang mengajarkan kepada anaknya bahwa tiada daya upaya & kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan Allah saja.

Ketika beliau berdakwah, mengajak warga desa Jrakah Payung khususnya dusun Wonoharjo untuk lebih giat beribadah. Beliau menggunakan pendekatan yang sangat mendasar dalam berkomunikasi dan menyampaikan dakwahnya.

Pada awalnya warga disana enggan untuk beribadah karena banyak alasan, salah satunya mereka pesimis. Tidak akan bisa masuk surga karena belum bisa melaksanakan ibadah dengan benar, maka untuk menarik minat & memberi semangat bapak-bapak dan ibu-ibu yang usianya sudah lanjut beliau memberikan kabar gembira bahwa semua umat islam Insya Allah masuk surga.

Akhirnya dengan hidayah Allah, tergeraklah para penduduk untuk mulai belajar, dan memang betul bahwa belajar diwaktu tua itu susahnya bukan main. Lidahpun sudah kelu sampai-sampai misalnya mengucapkan "laayaghfiru" berubah menjadi "layar biru".. ya Allah..

Perkembangan kegiatan ibadah warga dusun Wonoharjo ini begitu luar biasa, jika sekarang anda berkunjung kekampung tersebut, akan anda jumpai sebuah masjid ( Masjid Nurul Iman ) yang berada ditengah kampung tersebut. Terakhir saya kesana jamaah sholat Jum'atnya sudah banyak.

Saya ingat, dulu masjid ini hanya mushola. Jika mau sholat Jum'at kami harus kemasjid besar yang letaknya cukup jauh. Karena letak masjid besar ini jauh, maka banyak orang yang jadi enggan sholat jum'at. Akhirnya para tokoh adat Wonoharjo memutuskan melaksanakan sholat jum'at di Mushola Nurul Iman ini. Dengan pak Li salah satunya, sebagai imam & khotib perintisnya.

Dimasa awal pelaksanaan sholat Jum'at ini, bukan tanpa halangan dan ujian, namun dengan keteguhan hatinya beliau tetap meneruskan perjuanganya.

Dimasa awal, jamaahnya mungkin tidak mencapai 40 orang, tapi beliau tetap teguh. Bahkan meneguhkan lagi, andaipun tidak ada jamaahnya maka beliau akan Adzan sendiri, khutbah sendiri dan jadi imam sendiri. Jika ada yang mengatakan sholatnya tidak sah, tidak dapat pahala. Maka akan dipersilahkan oleh beliau, silahkan ambil pahalanya tapi beliau akan tetap melaksanakan Sholat Jum'at di Nurul Iman.

Pak Li mungkin akan tersenyum saat ini melihat bahwa keteguhanya ternyata membuka jalan bagi banyak orang untuk bisa lebih mudah beribadah sholat Jum'at. Warga Wonoharjo bahu membahu membangun mushola Nurul Iman menjadi Masjid yang indah. Diwaktu Jum'at jamaahnya tumpah ruah.

Semoga perjuangan beliau, bisa menjadi amal sholih yang bisa dijadikan bekal dialam kuburnya. Amin..

Beliau wafat di Sengon Hari Minggu Wage 19 November 2000 dan dimakamkan di TPU desa Sengon, didekat pusara Mbah Bari

Mungkin beliau keras semasa hidupnya, dan banyak salahnya juga, dan jika beliau belum sempat minta maaf, bagi yang kenal mohon dimaafkan segala salah & khilafnya. Semoga semua amal kebajikanya diterima dan dosa-dosanya diampuni Allah SWT, Amin..

Teguh Ujianto

Kamis, 20 Februari 2014

Menasihati Diri Sendiri

Kutanya ombak dipantai tentang cinta, dia hanya bedebar bedebur
Kutanya gunung nunjauh tinggi tentang kehidupan, dia diam saja.
Yang jawab malah si Jangkrik krik krik
Kutanya teman tentang hakikat perjuangan, dia malah membahas ekonomi

Lalu harus kemana aku ini?

Ketika teman jadi lawan, ketika musuh jadi saudara
Namanya musuh, walau jadi saudara ya tetap saja nggak enak dihati
Ketika yang tua malah seenaknya sendiri, gak mau ngalah
Ketika yang muda juga keras pendirianya

Terus aku gimana? Aku cuma ingin diajak bicara

Kalau wejangan dari yang tua rasanya nggak enak dihati, itu namanya menggurui
Kalau saran yang muda menyakiti, itu bisa bikin emosi

Sebenarnya aku itu mau apa sih?

Dinasihati nggak mau, dikasih masukan ogah
Yo wes sak karep karepmu..
Ya sudah, biar kucari sendiri jalanku

Teguh Ujianto

Selasa, 18 Februari 2014

Silaturahmi ke Samboja ; Semanis Salak Pondoh

Hari jumat minggu lalu, bertiga dengan istri dan anak, kami ke Samboja. Silaturahmi ke rumah "pakdhe Is"
Beliau ini adalah kerabat dari Bani Achmad, sedangkan kami sendiri dari Bani Nurjan.

Entah bagaimana ceritanya, dahulu kala mbah Nurjan dan mbah Achmad ini berikrar untuk menjadi satu keluarga. Jadi sebagai generasi penerus kamipun tetap melanjutkan hubungan silaturahmi para embah kami itu.

Pakdhe Is adalah generasi ketiga ( cucu mbah Achmad ), saya generasi ke empat ( buyut mbah Nurjan ).
Setiap tahun, biasanya hari ketiga setelah Iedul Fitri dua keluarga besar ini melakukan reuni. Tempatnya bergiliran & bergantian, jika tahun ini diadakan dirumah keluarga Bani Nurjan, maka tahun depan di salah satu rumah keluarga Bani achmad.

Walaupun belum pernah bertemu sebelumnya, dengan hanya tahu bahwa saya ini adalah 'keponakanya', maka pakdhe Is mencari saya, rasanya bahagia sekali manakala tahu ada orang yang belum pernah bertemu tapi begitu peduli , sampai sampai pada saat pertama bertemu dengan beliau saya hampir menangis (mungkin sudah menangis).

Moment itu rasanya luar biasa, itulah mungkin salah satu keindahan dari silaturahmi, menjaga hubungan kekeluargaan. Dan dari beliau akhirnya saya diperkenalkan dengan saudara-saudara yang lain yang ada di Balikpapan. Hebatnya lagi dari garis bani Achmad ini banyak sekali yang sukses & berpendidikan. Sementara dari bani Nurjan ini boleh dibilang tertinggal jauh.

Entahlah, mungkin dahulu mbah Nurjan melihat bahwa mbah Achmad ini nantinya akan punya keturunan yang hebat-hebat, makanya beliau nyedulur. Setidaknya mungkin agar kami sebagai keturunanya belajar tentang bagaimana mereka begitu peduli dengan pendidikan, bagaimana hidup dengan visi, dan bagaimana tetap mau peduli dengan yang saudara yang sedang berjuang, dengan membantunya, nyuluri agar semua keluarganya bisa sukses. Dan tetap membumi meski sudah membumbung tinggi.

Pakdhe Is ini ternyata terkenal juga, berikut ini ada salah satu tulisan tentang beliau ;

Agrowisata Salak Pondoh

SAMBOJA - Salak Pondoh, berbentuk kecil dengan daging buah yang kenyal serta tidak menempel dengan biji, juga rasanya yang sangat manis, dan berasal dari Pulau Jawa, ternyata dapat tumbuh subur di Kecamatan Samaboja Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pengembangnya adalah Kelompok Tani Tunas Madani (TM).

Desa Bukit Raya, yang berada sekitar 5 Km dari Kecamatan Samboja merupakan areal yang sangat cocok untuk perkebunan salak. Luas lahan keseluruhan sekitar 5 hektar,  Kelompok Tani Tunas Madani berupaya untuk menjadikan desa Bukit Raya menjadi lokasi wisata agro, apalagi akses ke desa Bukit Raya sudah mendapatkan proyek semenisasi oleh Pemerintah Kukar, beberapa tahun lalu.

Bapak Sutiarso Ketua Kelompok Tani menceritakan, dirinya tertarik dengan tanaman salak ini sekitar tahun 1994 lalu, artinya sudah empat belas tahun ia memelihara kebun salak, bibit pada waktu itu dibelinya langsung dari Jawa dan ditanam diatas areal tanah 500 meter persegi dan perkebunan tersebut dikelola sendiri dan belum memiliki kelompok tani. Sejak tahun 2000 lalu dirinya bersama 5 orang petani salak lainnya mendirikan kelompok tani, dan kemudian mengembangkan perkebunan salak, awalnya jenis yang ditanam adalah Salak Pondoh, namun kini dirinya mulai mengembangkan jenis yang lainnya yaitu salak lumut, salak gula pasir dan salak madu.

Bibit yang dikembangkannya selain untuk ditanam di perkebunan sendiri, juga dijual kepada warga sekitarnya yang juga ingin mengembangkan perkebunan salak.

“Sementara ini bibit hanya dijual bagi warga desanya, dengan demikian desa ini benar-benar menjadi sentral produksi buah salak,” harap Sutiarso.

Menurut Sutiarso, pada saat sekarang penjualan hasil panen salak tidak mengalami kendala, hargapun cukup tinggi satu kilo salak segar dijual dengan harga Rp. 8 ribu s/d Rp.10 ribu, selain dijual sendiri terkadang ada tengkulak yang datang langsung ke kebun salak milik kelompok taninya. 

Namun dirinya bersama kelompok taninya, telah mengambil langkah strategis dengan membuat makanan olahan dari bahan salak semisal wine, kripik dan dodol. Hal ini didukung pula dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kukar, dengan memberikan bantuan alat pengolahan buah segar (Vacum Frayer) menjadi makanan olahan lain seperti kripik tahun 2006 lalu.

“Sekarang salak selain dijual sebagai buah segar, juga telah dijual sebagai makanan lain yaitu dengan nama Kripik Salak Pondoh produksi Kelompok Usaha Tunas Madani, dan telah dipasarkan sampai ke Samarinda dan Balikpapan,” kata Sutiarso yang juga mantan Anggota Bdan Perwakilan Desa (BPD) Desa Bukit Raya.

Hanya saja menurutnya yang menjadi kendala adalah pasokan bahan baku, hasil panen yang berasal dari perkebunan miliknya tidak mencukupi, sehingga untuk mengatasi agar usahanya tersebut tetap berproduksi, maka selain membuat makanan berbahan salak, kelompoknya juga membuat makanan berbahan pisang dan nanas, untuk pisang dan nanas di Samboja sangat banyak dan mudah didapat.

Dari hasil, perkebunan salak, kini Sutiarso telah mampu menyekolahkan kedua anaknya sampai kejenjang perguruan tinggi, bahkan anak sulungnya pada saat sekarang terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran semester VIII di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman yang akan menyelesaikan sarjana kedokterannya menuju coass, kemudian anak ragilnya merupakan mahasiswi berprestasi di almamater yang sama pada jurusan Teknik Pertambangan.
 

Minggu, 16 Februari 2014

Kisah Masa Lalu " Nurhadi Susetyo"

Entah bagaimana, Tuhan seperti sedang memperlihatkan berbagai keburukanku dimasa lalu dengan mengatur peristiwa-peristiwa yang esensinya sama, dengan posisi terbalik.

Seperti dipagi ini, ada peristiwa yang mengingatkan aku dengan pertengkaran yang terjadi dimasa lalu, begini ceritanya;

Sewaktu di SLTP, berbagai kesibukan sekolah telah menyita banyak waktuku, sehingga banyak tugas pelajaran yang tidak sempat aku kerjakan. Pada suatu saat ada tugas yang harus segera dikumpulkan, tugas tersebut belum aku kerjakan sementara ada kegiatan yang harus aku ikuti.

Karena merasa bahwa apa yang aku kerjakan ini sangat penting maka aku minta tolong temanku, Nurhadi untuk mengerjakanya. Dan ternyata dia menolak, padahal dia teman duduk satu meja denganku, yang sangat aku harapkan bantuanya.

Aku sangat kesal, tidak bisakah dia mengerti aku yang sangat sibuk ini, (yang merasa apa yang dilakukan sangat penting - sampai tidak mengerjakan tugasnya). Dan kami-pun adu mulut, setelah itu hubunganku dengan Nurhadi menjauh.

Hampir 20 tahun kemudian, hari ini peristiwa tersebut terulang, dengan aku diposisi orang yang dianggap tidak penting. Yang entah bagaimana seolah-olah aku harus membantu orang yang sedang " sangat " sibuk ini.

Nurhadi - andai kau dulu adalah seorang yang bisa memberi nasihat. Mungkin aku akan lebih awal sadar, tidak perlu menunggu bertahun-tahun agar aku sadar bahwa dulu aku sudah salah padamu.

Kembali lagi bahwa merasa diri paling berhak menerima, paling harus diutamakan bisa merusak hubungan dengan orang lain. Penting tidak penting suatu persoalan sangat berbeda tergantung siapa yang melihatnya. Bagiku dulu kegiatan OSIS & Paskibra itu penting sehingga tugas sekolah pun aku lalaikan. Dan karena aku merasa mengemban tugas dari sekolah maka aku juga merasa bahwa sudah seharusnya semua orang mendukungku.

Namun jika Nurhadi yang melihat. It's not my business

Kenapa pula dia tiba-tiba harus mengerjakan tugas orang lain, yang lebih memilih sibuk mengerjakan sesuatu yang tidak penting.

Sudahlah, intinya merasa diri sendiri paling benar, paling penting, dan mau semua orang menuruti keinginan kita itu bukan sebuah pilihan yang bagus. Ada perasaan orang lain yang harus kita jaga, ada hak orang lain yang tidak boleh kita ganggu.

Nurhadi kabarnya sudah sukses berkarier sebagai anggota TNI, terimakasih mas brow, maaf kalau aku dulu menyakitimu.

Semoga ANT ( Aziz, Nurhadi, Teguh ) kelak bisa reunian, geng kecil kita bisa bernostalgia. Setidaknya untuk bermaaf maafan..

Teguh Ujianto


Jumat, 14 Februari 2014

Membumbung Lebih Tinggi

Kenapa membumbung? kenapa bukan terbang, melayang, atau melesat.

Tadinya mau pakai kata melayang, tetapi melayang itu berkonotasi terbang tanpa arah. Sedangkan membumbung ini arahnya jelas, keatas.

Contoh membumbung itu balon udara, begitu dilepaskan dia langsung terbang keatas, terus keatas sampai sudah habis tenaganya baru dia melayang ke bawah.

Saya bukan mau membahas balon udara, itu cuma contoh. Contoh yang bisa 'digathuk-gathuke" dengan kehidupan. Banyak sekali peristiwa dalam hidup yang yang berhubungan dengan Karier, Ekonomi, Status dan Pangkat yang bisa dikaitkan dengan Bumbung ini. Banyak orang yang ingin dirinya segera melesat keatas lebih tinggi, dengan cara membakar lebih banyak api. Alhasil bukanya berhasil, malah terbakar habis.

Tuhan sudah membumbungkan kita setinggi ini, tentu mudah bagi Tuhan untuk membumbungkan kita jauh lebih tinggi atau malah membakar kita sampai disini, dan terjunlah kita kembali ke Bumi.

Oh Tuhan.. Berilah kami kekuatan untuk Bersyukur..

Teguh Ujianto

Kisah Masa Lalu " Tlemuk"

Hari ini saya teringat satu kejadian dimasa lalu, saat masih bekerja di penggergajian kayu sebagai mandor.

Pada suatu hari meteran saya raib entah dimana, padahal saya sangat butuh meteran tersebut. Di area penggergajian kayu itu ada seorang tukang kayu, namanya Tlemuk, dan dia punya meteran.

Akhirnya karena butuh, saya pinjam meteranya si Tlemuk. sekali pinjam, begitu selesai dikembalikan.
kemudian butuh lagi, pinjam lagi, dikembalikan lagi. Entah sampai berapa kali saya bolak-balik pinjam meteran sampai suatu saat tiba-tiba Tlemuk emosi, Meteran yang mau saya pinjam dihancurkanya dengan palu. ( untung bukan kepala saya yang dipalu ) Saya sempat kaget, tidak menyangka kalau Tlemuk akan begitu marah "hanya" karena meteranya saya pinjam.
Waktu itu saya sedang sangat butuh meteran, jadi meteran yang sudah remuk itu saya patahin lagi ujungnya ( kurang lebih 1 Meter yang dipakai ). Tlemuk semakin murka, dia pulang. Marah besar dengan saya.

Hampir 10 tahun dan sekarang peristiwa yang mirip terjadi lagi, hanya saja tertukar posisinya. Saya sebagai "Tlemuk" yang diganggu kerjanya. Memang bukan meteran yang jadi biang susuhnya, akan tetapi esensi peristiwanya sangat sama. Kalau Tlemuk sampai menggetok meteran, maka saya melempar stand pot bunga (untung juga gak ada yang kena )

Kini saya sadar, andai saya yang ada diposisi Tlemuk 10 tahun yang lalu, mungkin bukan meteranya yang saya palu, tapi kepala yang ganggu kerja saya itu yang saya palu (berati kepala saya dong). Pikiran saya dulu yang menganggap meminjam itu "hanya" meminjam ternyata salah besar.

No body wants to be disturbed, even only with small things, because small will be very relative, depend on the situation. Tlemuk adalah peristiwa yang terjadi untuk memberi saya pelajaran 10 tahun kemudian

Bahwa saat ini saya sangat ingin bertemu Tlemuk dan minta maaf, dan berterimakasih karena tidak menggetok kepala saya. ( Mudah-mudahan kita berdua panjang umur ya Tlemuk, dan bisa bertemu lagi untuk bermaafan - saya yang minta maaf- maafin aku ya Tlemuk )

Teguh Ujianto

Minggu, 05 Januari 2014

Trik " Menipu" Rekan Kerja

Menipu dan bohong itu dosa, tapi yang saya lakukan ini mungkin bukan termasuk keduanya..

Menghadapi rekan kerja yang suka sak karepe dewe, hmm mungkin bisa mencoba trick ini
Cari tahu apa yang bisa membuat dia menurut, dan manfaatkan sisi lemahnya tersebut.

Seperti karyawan pada umumnya, salah satu rekan kerja saya takut sama pak Bos.
Jadi ketika suatu siang ada pesan dari pak Bos untuk dilaksanakan & dia tampak ogah-ogahan,
maka saya gunakan trik ini;
Pesan dari pak Bos disampaikan lewat telepon, maka saya miscall no telp tersebut ( dengan catatan teman saya tersebut bisa mendengar ada panggilan telepon masuk )
Setelah mengangkat telp sebentar, kemudian saya datangi lagi teman saya tersebut.

Dalam proses ini saya tidak berkata apapun, cuma miscall, angkat telepon ( tanpa bicara ), & mendatangi orangnya (juga tanpa bicara ). Ketakutan & persepsinya sudah membuat teman saya tersebut segera melaksanakan pesan dari Pak Bos tanpa mau mencari tahu sebenarnya itu telp dari siapa.

Tanpa bohong & tipu-tipu kan.. Hehehe

Teguh Ujianto