Kamis, 20 Februari 2014

Menasihati Diri Sendiri

Kutanya ombak dipantai tentang cinta, dia hanya bedebar bedebur
Kutanya gunung nunjauh tinggi tentang kehidupan, dia diam saja.
Yang jawab malah si Jangkrik krik krik
Kutanya teman tentang hakikat perjuangan, dia malah membahas ekonomi

Lalu harus kemana aku ini?

Ketika teman jadi lawan, ketika musuh jadi saudara
Namanya musuh, walau jadi saudara ya tetap saja nggak enak dihati
Ketika yang tua malah seenaknya sendiri, gak mau ngalah
Ketika yang muda juga keras pendirianya

Terus aku gimana? Aku cuma ingin diajak bicara

Kalau wejangan dari yang tua rasanya nggak enak dihati, itu namanya menggurui
Kalau saran yang muda menyakiti, itu bisa bikin emosi

Sebenarnya aku itu mau apa sih?

Dinasihati nggak mau, dikasih masukan ogah
Yo wes sak karep karepmu..
Ya sudah, biar kucari sendiri jalanku

Teguh Ujianto

Selasa, 18 Februari 2014

Silaturahmi ke Samboja ; Semanis Salak Pondoh

Hari jumat minggu lalu, bertiga dengan istri dan anak, kami ke Samboja. Silaturahmi ke rumah "pakdhe Is"
Beliau ini adalah kerabat dari Bani Achmad, sedangkan kami sendiri dari Bani Nurjan.

Entah bagaimana ceritanya, dahulu kala mbah Nurjan dan mbah Achmad ini berikrar untuk menjadi satu keluarga. Jadi sebagai generasi penerus kamipun tetap melanjutkan hubungan silaturahmi para embah kami itu.

Pakdhe Is adalah generasi ketiga ( cucu mbah Achmad ), saya generasi ke empat ( buyut mbah Nurjan ).
Setiap tahun, biasanya hari ketiga setelah Iedul Fitri dua keluarga besar ini melakukan reuni. Tempatnya bergiliran & bergantian, jika tahun ini diadakan dirumah keluarga Bani Nurjan, maka tahun depan di salah satu rumah keluarga Bani achmad.

Walaupun belum pernah bertemu sebelumnya, dengan hanya tahu bahwa saya ini adalah 'keponakanya', maka pakdhe Is mencari saya, rasanya bahagia sekali manakala tahu ada orang yang belum pernah bertemu tapi begitu peduli , sampai sampai pada saat pertama bertemu dengan beliau saya hampir menangis (mungkin sudah menangis).

Moment itu rasanya luar biasa, itulah mungkin salah satu keindahan dari silaturahmi, menjaga hubungan kekeluargaan. Dan dari beliau akhirnya saya diperkenalkan dengan saudara-saudara yang lain yang ada di Balikpapan. Hebatnya lagi dari garis bani Achmad ini banyak sekali yang sukses & berpendidikan. Sementara dari bani Nurjan ini boleh dibilang tertinggal jauh.

Entahlah, mungkin dahulu mbah Nurjan melihat bahwa mbah Achmad ini nantinya akan punya keturunan yang hebat-hebat, makanya beliau nyedulur. Setidaknya mungkin agar kami sebagai keturunanya belajar tentang bagaimana mereka begitu peduli dengan pendidikan, bagaimana hidup dengan visi, dan bagaimana tetap mau peduli dengan yang saudara yang sedang berjuang, dengan membantunya, nyuluri agar semua keluarganya bisa sukses. Dan tetap membumi meski sudah membumbung tinggi.

Pakdhe Is ini ternyata terkenal juga, berikut ini ada salah satu tulisan tentang beliau ;

Agrowisata Salak Pondoh

SAMBOJA - Salak Pondoh, berbentuk kecil dengan daging buah yang kenyal serta tidak menempel dengan biji, juga rasanya yang sangat manis, dan berasal dari Pulau Jawa, ternyata dapat tumbuh subur di Kecamatan Samaboja Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pengembangnya adalah Kelompok Tani Tunas Madani (TM).

Desa Bukit Raya, yang berada sekitar 5 Km dari Kecamatan Samboja merupakan areal yang sangat cocok untuk perkebunan salak. Luas lahan keseluruhan sekitar 5 hektar,  Kelompok Tani Tunas Madani berupaya untuk menjadikan desa Bukit Raya menjadi lokasi wisata agro, apalagi akses ke desa Bukit Raya sudah mendapatkan proyek semenisasi oleh Pemerintah Kukar, beberapa tahun lalu.

Bapak Sutiarso Ketua Kelompok Tani menceritakan, dirinya tertarik dengan tanaman salak ini sekitar tahun 1994 lalu, artinya sudah empat belas tahun ia memelihara kebun salak, bibit pada waktu itu dibelinya langsung dari Jawa dan ditanam diatas areal tanah 500 meter persegi dan perkebunan tersebut dikelola sendiri dan belum memiliki kelompok tani. Sejak tahun 2000 lalu dirinya bersama 5 orang petani salak lainnya mendirikan kelompok tani, dan kemudian mengembangkan perkebunan salak, awalnya jenis yang ditanam adalah Salak Pondoh, namun kini dirinya mulai mengembangkan jenis yang lainnya yaitu salak lumut, salak gula pasir dan salak madu.

Bibit yang dikembangkannya selain untuk ditanam di perkebunan sendiri, juga dijual kepada warga sekitarnya yang juga ingin mengembangkan perkebunan salak.

“Sementara ini bibit hanya dijual bagi warga desanya, dengan demikian desa ini benar-benar menjadi sentral produksi buah salak,” harap Sutiarso.

Menurut Sutiarso, pada saat sekarang penjualan hasil panen salak tidak mengalami kendala, hargapun cukup tinggi satu kilo salak segar dijual dengan harga Rp. 8 ribu s/d Rp.10 ribu, selain dijual sendiri terkadang ada tengkulak yang datang langsung ke kebun salak milik kelompok taninya. 

Namun dirinya bersama kelompok taninya, telah mengambil langkah strategis dengan membuat makanan olahan dari bahan salak semisal wine, kripik dan dodol. Hal ini didukung pula dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kukar, dengan memberikan bantuan alat pengolahan buah segar (Vacum Frayer) menjadi makanan olahan lain seperti kripik tahun 2006 lalu.

“Sekarang salak selain dijual sebagai buah segar, juga telah dijual sebagai makanan lain yaitu dengan nama Kripik Salak Pondoh produksi Kelompok Usaha Tunas Madani, dan telah dipasarkan sampai ke Samarinda dan Balikpapan,” kata Sutiarso yang juga mantan Anggota Bdan Perwakilan Desa (BPD) Desa Bukit Raya.

Hanya saja menurutnya yang menjadi kendala adalah pasokan bahan baku, hasil panen yang berasal dari perkebunan miliknya tidak mencukupi, sehingga untuk mengatasi agar usahanya tersebut tetap berproduksi, maka selain membuat makanan berbahan salak, kelompoknya juga membuat makanan berbahan pisang dan nanas, untuk pisang dan nanas di Samboja sangat banyak dan mudah didapat.

Dari hasil, perkebunan salak, kini Sutiarso telah mampu menyekolahkan kedua anaknya sampai kejenjang perguruan tinggi, bahkan anak sulungnya pada saat sekarang terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran semester VIII di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman yang akan menyelesaikan sarjana kedokterannya menuju coass, kemudian anak ragilnya merupakan mahasiswi berprestasi di almamater yang sama pada jurusan Teknik Pertambangan.
 

Minggu, 16 Februari 2014

Kisah Masa Lalu " Nurhadi Susetyo"

Entah bagaimana, Tuhan seperti sedang memperlihatkan berbagai keburukanku dimasa lalu dengan mengatur peristiwa-peristiwa yang esensinya sama, dengan posisi terbalik.

Seperti dipagi ini, ada peristiwa yang mengingatkan aku dengan pertengkaran yang terjadi dimasa lalu, begini ceritanya;

Sewaktu di SLTP, berbagai kesibukan sekolah telah menyita banyak waktuku, sehingga banyak tugas pelajaran yang tidak sempat aku kerjakan. Pada suatu saat ada tugas yang harus segera dikumpulkan, tugas tersebut belum aku kerjakan sementara ada kegiatan yang harus aku ikuti.

Karena merasa bahwa apa yang aku kerjakan ini sangat penting maka aku minta tolong temanku, Nurhadi untuk mengerjakanya. Dan ternyata dia menolak, padahal dia teman duduk satu meja denganku, yang sangat aku harapkan bantuanya.

Aku sangat kesal, tidak bisakah dia mengerti aku yang sangat sibuk ini, (yang merasa apa yang dilakukan sangat penting - sampai tidak mengerjakan tugasnya). Dan kami-pun adu mulut, setelah itu hubunganku dengan Nurhadi menjauh.

Hampir 20 tahun kemudian, hari ini peristiwa tersebut terulang, dengan aku diposisi orang yang dianggap tidak penting. Yang entah bagaimana seolah-olah aku harus membantu orang yang sedang " sangat " sibuk ini.

Nurhadi - andai kau dulu adalah seorang yang bisa memberi nasihat. Mungkin aku akan lebih awal sadar, tidak perlu menunggu bertahun-tahun agar aku sadar bahwa dulu aku sudah salah padamu.

Kembali lagi bahwa merasa diri paling berhak menerima, paling harus diutamakan bisa merusak hubungan dengan orang lain. Penting tidak penting suatu persoalan sangat berbeda tergantung siapa yang melihatnya. Bagiku dulu kegiatan OSIS & Paskibra itu penting sehingga tugas sekolah pun aku lalaikan. Dan karena aku merasa mengemban tugas dari sekolah maka aku juga merasa bahwa sudah seharusnya semua orang mendukungku.

Namun jika Nurhadi yang melihat. It's not my business

Kenapa pula dia tiba-tiba harus mengerjakan tugas orang lain, yang lebih memilih sibuk mengerjakan sesuatu yang tidak penting.

Sudahlah, intinya merasa diri sendiri paling benar, paling penting, dan mau semua orang menuruti keinginan kita itu bukan sebuah pilihan yang bagus. Ada perasaan orang lain yang harus kita jaga, ada hak orang lain yang tidak boleh kita ganggu.

Nurhadi kabarnya sudah sukses berkarier sebagai anggota TNI, terimakasih mas brow, maaf kalau aku dulu menyakitimu.

Semoga ANT ( Aziz, Nurhadi, Teguh ) kelak bisa reunian, geng kecil kita bisa bernostalgia. Setidaknya untuk bermaaf maafan..

Teguh Ujianto


Jumat, 14 Februari 2014

Membumbung Lebih Tinggi

Kenapa membumbung? kenapa bukan terbang, melayang, atau melesat.

Tadinya mau pakai kata melayang, tetapi melayang itu berkonotasi terbang tanpa arah. Sedangkan membumbung ini arahnya jelas, keatas.

Contoh membumbung itu balon udara, begitu dilepaskan dia langsung terbang keatas, terus keatas sampai sudah habis tenaganya baru dia melayang ke bawah.

Saya bukan mau membahas balon udara, itu cuma contoh. Contoh yang bisa 'digathuk-gathuke" dengan kehidupan. Banyak sekali peristiwa dalam hidup yang yang berhubungan dengan Karier, Ekonomi, Status dan Pangkat yang bisa dikaitkan dengan Bumbung ini. Banyak orang yang ingin dirinya segera melesat keatas lebih tinggi, dengan cara membakar lebih banyak api. Alhasil bukanya berhasil, malah terbakar habis.

Tuhan sudah membumbungkan kita setinggi ini, tentu mudah bagi Tuhan untuk membumbungkan kita jauh lebih tinggi atau malah membakar kita sampai disini, dan terjunlah kita kembali ke Bumi.

Oh Tuhan.. Berilah kami kekuatan untuk Bersyukur..

Teguh Ujianto

Kisah Masa Lalu " Tlemuk"

Hari ini saya teringat satu kejadian dimasa lalu, saat masih bekerja di penggergajian kayu sebagai mandor.

Pada suatu hari meteran saya raib entah dimana, padahal saya sangat butuh meteran tersebut. Di area penggergajian kayu itu ada seorang tukang kayu, namanya Tlemuk, dan dia punya meteran.

Akhirnya karena butuh, saya pinjam meteranya si Tlemuk. sekali pinjam, begitu selesai dikembalikan.
kemudian butuh lagi, pinjam lagi, dikembalikan lagi. Entah sampai berapa kali saya bolak-balik pinjam meteran sampai suatu saat tiba-tiba Tlemuk emosi, Meteran yang mau saya pinjam dihancurkanya dengan palu. ( untung bukan kepala saya yang dipalu ) Saya sempat kaget, tidak menyangka kalau Tlemuk akan begitu marah "hanya" karena meteranya saya pinjam.
Waktu itu saya sedang sangat butuh meteran, jadi meteran yang sudah remuk itu saya patahin lagi ujungnya ( kurang lebih 1 Meter yang dipakai ). Tlemuk semakin murka, dia pulang. Marah besar dengan saya.

Hampir 10 tahun dan sekarang peristiwa yang mirip terjadi lagi, hanya saja tertukar posisinya. Saya sebagai "Tlemuk" yang diganggu kerjanya. Memang bukan meteran yang jadi biang susuhnya, akan tetapi esensi peristiwanya sangat sama. Kalau Tlemuk sampai menggetok meteran, maka saya melempar stand pot bunga (untung juga gak ada yang kena )

Kini saya sadar, andai saya yang ada diposisi Tlemuk 10 tahun yang lalu, mungkin bukan meteranya yang saya palu, tapi kepala yang ganggu kerja saya itu yang saya palu (berati kepala saya dong). Pikiran saya dulu yang menganggap meminjam itu "hanya" meminjam ternyata salah besar.

No body wants to be disturbed, even only with small things, because small will be very relative, depend on the situation. Tlemuk adalah peristiwa yang terjadi untuk memberi saya pelajaran 10 tahun kemudian

Bahwa saat ini saya sangat ingin bertemu Tlemuk dan minta maaf, dan berterimakasih karena tidak menggetok kepala saya. ( Mudah-mudahan kita berdua panjang umur ya Tlemuk, dan bisa bertemu lagi untuk bermaafan - saya yang minta maaf- maafin aku ya Tlemuk )

Teguh Ujianto