Ibunda bercerita, sewaktu masih kecil ketika beliau bangun malam sering diajak keluar rumah oleh Mbah Nurjan untuk sekedar melihat bintang.
Mbah Nurjan memberitahu, dialam kubur nanti jika kita semasa hidup taat kepada Allah, maka insya Allah nanti kuburnya diluaskan, seluas langit penuh bintang. Begitu indahnya
Namun sebaliknya, jika kita ingkar semasa hidup didunia, bisa-bisa kubur kita nanti disempitkan. Menakutkan seperti langit mendung gelap gulita, dengan gemuruh guntur yang menyiksa. Naudzubillah
Jika langit cerah penuh bintang, aku teringat ibu. Semoga kuburmu juga seluas langit penuh bintang itu ibu.
Beliau yang berjuang tanpa sempat menyaksikan hasil perjuanganya. Semasa hidup beliau gigih memperjuangkan pendidikan untuk anaknya, sampai akhir hidupnya. Karena beliau yakin bahwa dengan ilmu anak - anaknya akan bisa hidup lebih mulia.
Setidaknya mama keisha sekarang sudah jadi Guru, dan disetiap ilmu yang dipakainya ada nafasmu didalamnya, yang semoga jadi bekalmu juga ibu, karena ilmunya bermanfaat. Aku juga bisa mencari nafkah dengan ilmu yang aku dapat dari sekolah yang aku bisa sekolah disana karena perjuanganmu. Semoga hal ini juga dihitung sebagai amalmu.
Kami putra putrimu hanya bisa mendoakan, semoga engkau bahagia disana ibu, amin..
Teguh Ujianto
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 April 2014
Selasa, 18 Februari 2014
Silaturahmi ke Samboja ; Semanis Salak Pondoh
Hari jumat minggu lalu, bertiga dengan istri dan anak, kami ke Samboja. Silaturahmi ke rumah "pakdhe Is"
Beliau ini adalah kerabat dari Bani Achmad, sedangkan kami sendiri dari Bani Nurjan.
Entah bagaimana ceritanya, dahulu kala mbah Nurjan dan mbah Achmad ini berikrar untuk menjadi satu keluarga. Jadi sebagai generasi penerus kamipun tetap melanjutkan hubungan silaturahmi para embah kami itu.
Pakdhe Is adalah generasi ketiga ( cucu mbah Achmad ), saya generasi ke empat ( buyut mbah Nurjan ).
Setiap tahun, biasanya hari ketiga setelah Iedul Fitri dua keluarga besar ini melakukan reuni. Tempatnya bergiliran & bergantian, jika tahun ini diadakan dirumah keluarga Bani Nurjan, maka tahun depan di salah satu rumah keluarga Bani achmad.
Walaupun belum pernah bertemu sebelumnya, dengan hanya tahu bahwa saya ini adalah 'keponakanya', maka pakdhe Is mencari saya, rasanya bahagia sekali manakala tahu ada orang yang belum pernah bertemu tapi begitu peduli , sampai sampai pada saat pertama bertemu dengan beliau saya hampir menangis (mungkin sudah menangis).
Moment itu rasanya luar biasa, itulah mungkin salah satu keindahan dari silaturahmi, menjaga hubungan kekeluargaan. Dan dari beliau akhirnya saya diperkenalkan dengan saudara-saudara yang lain yang ada di Balikpapan. Hebatnya lagi dari garis bani Achmad ini banyak sekali yang sukses & berpendidikan. Sementara dari bani Nurjan ini boleh dibilang tertinggal jauh.
Entahlah, mungkin dahulu mbah Nurjan melihat bahwa mbah Achmad ini nantinya akan punya keturunan yang hebat-hebat, makanya beliau nyedulur. Setidaknya mungkin agar kami sebagai keturunanya belajar tentang bagaimana mereka begitu peduli dengan pendidikan, bagaimana hidup dengan visi, dan bagaimana tetap mau peduli dengan yang saudara yang sedang berjuang, dengan membantunya, nyuluri agar semua keluarganya bisa sukses. Dan tetap membumi meski sudah membumbung tinggi.
Pakdhe Is ini ternyata terkenal juga, berikut ini ada salah satu tulisan tentang beliau ;
SAMBOJA
- Salak Pondoh, berbentuk kecil dengan daging buah yang kenyal serta
tidak menempel dengan biji, juga rasanya yang sangat manis, dan berasal
dari Pulau Jawa, ternyata dapat tumbuh subur di Kecamatan Samaboja
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pengembangnya adalah Kelompok Tani
Tunas Madani (TM).
Menurut
Sutiarso, pada saat sekarang penjualan hasil panen salak tidak
mengalami kendala, hargapun cukup tinggi satu kilo salak segar dijual
dengan harga Rp. 8 ribu s/d Rp.10 ribu, selain dijual sendiri terkadang
ada tengkulak yang datang langsung ke kebun salak milik kelompok
taninya.
Beliau ini adalah kerabat dari Bani Achmad, sedangkan kami sendiri dari Bani Nurjan.
Entah bagaimana ceritanya, dahulu kala mbah Nurjan dan mbah Achmad ini berikrar untuk menjadi satu keluarga. Jadi sebagai generasi penerus kamipun tetap melanjutkan hubungan silaturahmi para embah kami itu.
Pakdhe Is adalah generasi ketiga ( cucu mbah Achmad ), saya generasi ke empat ( buyut mbah Nurjan ).
Setiap tahun, biasanya hari ketiga setelah Iedul Fitri dua keluarga besar ini melakukan reuni. Tempatnya bergiliran & bergantian, jika tahun ini diadakan dirumah keluarga Bani Nurjan, maka tahun depan di salah satu rumah keluarga Bani achmad.
Walaupun belum pernah bertemu sebelumnya, dengan hanya tahu bahwa saya ini adalah 'keponakanya', maka pakdhe Is mencari saya, rasanya bahagia sekali manakala tahu ada orang yang belum pernah bertemu tapi begitu peduli , sampai sampai pada saat pertama bertemu dengan beliau saya hampir menangis (mungkin sudah menangis).
Moment itu rasanya luar biasa, itulah mungkin salah satu keindahan dari silaturahmi, menjaga hubungan kekeluargaan. Dan dari beliau akhirnya saya diperkenalkan dengan saudara-saudara yang lain yang ada di Balikpapan. Hebatnya lagi dari garis bani Achmad ini banyak sekali yang sukses & berpendidikan. Sementara dari bani Nurjan ini boleh dibilang tertinggal jauh.
Entahlah, mungkin dahulu mbah Nurjan melihat bahwa mbah Achmad ini nantinya akan punya keturunan yang hebat-hebat, makanya beliau nyedulur. Setidaknya mungkin agar kami sebagai keturunanya belajar tentang bagaimana mereka begitu peduli dengan pendidikan, bagaimana hidup dengan visi, dan bagaimana tetap mau peduli dengan yang saudara yang sedang berjuang, dengan membantunya, nyuluri agar semua keluarganya bisa sukses. Dan tetap membumi meski sudah membumbung tinggi.
Pakdhe Is ini ternyata terkenal juga, berikut ini ada salah satu tulisan tentang beliau ;
Agrowisata Salak Pondoh
SAMBOJA
- Salak Pondoh, berbentuk kecil dengan daging buah yang kenyal serta
tidak menempel dengan biji, juga rasanya yang sangat manis, dan berasal
dari Pulau Jawa, ternyata dapat tumbuh subur di Kecamatan Samaboja
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pengembangnya adalah Kelompok Tani
Tunas Madani (TM).
Desa
Bukit Raya, yang berada sekitar 5 Km dari Kecamatan Samboja merupakan
areal yang sangat cocok untuk perkebunan salak. Luas lahan keseluruhan
sekitar 5 hektar, Kelompok Tani Tunas Madani berupaya
untuk menjadikan desa Bukit Raya menjadi lokasi wisata agro, apalagi
akses ke desa Bukit Raya sudah mendapatkan proyek semenisasi oleh
Pemerintah Kukar, beberapa tahun lalu.
Bapak
Sutiarso Ketua Kelompok Tani menceritakan, dirinya tertarik dengan
tanaman salak ini sekitar tahun 1994 lalu, artinya sudah empat belas
tahun ia memelihara kebun salak, bibit pada waktu itu dibelinya langsung
dari Jawa dan ditanam diatas areal tanah 500 meter persegi dan
perkebunan tersebut dikelola sendiri dan belum memiliki kelompok tani.
Sejak tahun 2000 lalu dirinya bersama 5 orang petani salak lainnya
mendirikan kelompok tani, dan kemudian mengembangkan perkebunan salak,
awalnya jenis yang ditanam adalah Salak Pondoh, namun kini dirinya mulai
mengembangkan jenis yang lainnya yaitu salak lumut, salak gula pasir
dan salak madu.
Bibit
yang dikembangkannya selain untuk ditanam di perkebunan sendiri, juga
dijual kepada warga sekitarnya yang juga ingin mengembangkan perkebunan
salak.
“Sementara
ini bibit hanya dijual bagi warga desanya, dengan demikian desa ini
benar-benar menjadi sentral produksi buah salak,” harap Sutiarso.
Menurut
Sutiarso, pada saat sekarang penjualan hasil panen salak tidak
mengalami kendala, hargapun cukup tinggi satu kilo salak segar dijual
dengan harga Rp. 8 ribu s/d Rp.10 ribu, selain dijual sendiri terkadang
ada tengkulak yang datang langsung ke kebun salak milik kelompok
taninya.
Namun
dirinya bersama kelompok taninya, telah mengambil langkah strategis
dengan membuat makanan olahan dari bahan salak semisal wine, kripik dan
dodol. Hal ini didukung pula dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan
Kukar, dengan memberikan bantuan alat pengolahan buah segar (Vacum
Frayer) menjadi makanan olahan lain seperti kripik tahun 2006 lalu.
“Sekarang
salak selain dijual sebagai buah segar, juga telah dijual sebagai
makanan lain yaitu dengan nama Kripik Salak Pondoh produksi Kelompok
Usaha Tunas Madani, dan telah dipasarkan sampai ke Samarinda dan
Balikpapan,” kata Sutiarso yang juga mantan Anggota Bdan Perwakilan Desa
(BPD) Desa Bukit Raya.
Hanya
saja menurutnya yang menjadi kendala adalah pasokan bahan baku, hasil
panen yang berasal dari perkebunan miliknya tidak mencukupi, sehingga
untuk mengatasi agar usahanya tersebut tetap berproduksi, maka selain
membuat makanan berbahan salak, kelompoknya juga membuat makanan
berbahan pisang dan nanas, untuk pisang dan nanas di Samboja sangat
banyak dan mudah didapat.
Dari
hasil, perkebunan salak, kini Sutiarso telah mampu menyekolahkan kedua
anaknya sampai kejenjang perguruan tinggi, bahkan anak sulungnya pada
saat sekarang terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran semester VIII di
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman yang akan menyelesaikan
sarjana kedokterannya menuju coass, kemudian anak ragilnya merupakan
mahasiswi berprestasi di almamater yang sama pada jurusan Teknik
Pertambangan.
Minggu, 16 Februari 2014
Kisah Masa Lalu " Nurhadi Susetyo"
Entah bagaimana, Tuhan seperti sedang memperlihatkan berbagai keburukanku dimasa lalu dengan mengatur peristiwa-peristiwa yang esensinya sama, dengan posisi terbalik.
Seperti dipagi ini, ada peristiwa yang mengingatkan aku dengan pertengkaran yang terjadi dimasa lalu, begini ceritanya;
Sewaktu di SLTP, berbagai kesibukan sekolah telah menyita banyak waktuku, sehingga banyak tugas pelajaran yang tidak sempat aku kerjakan. Pada suatu saat ada tugas yang harus segera dikumpulkan, tugas tersebut belum aku kerjakan sementara ada kegiatan yang harus aku ikuti.
Karena merasa bahwa apa yang aku kerjakan ini sangat penting maka aku minta tolong temanku, Nurhadi untuk mengerjakanya. Dan ternyata dia menolak, padahal dia teman duduk satu meja denganku, yang sangat aku harapkan bantuanya.
Aku sangat kesal, tidak bisakah dia mengerti aku yang sangat sibuk ini, (yang merasa apa yang dilakukan sangat penting - sampai tidak mengerjakan tugasnya). Dan kami-pun adu mulut, setelah itu hubunganku dengan Nurhadi menjauh.
Hampir 20 tahun kemudian, hari ini peristiwa tersebut terulang, dengan aku diposisi orang yang dianggap tidak penting. Yang entah bagaimana seolah-olah aku harus membantu orang yang sedang " sangat " sibuk ini.
Nurhadi - andai kau dulu adalah seorang yang bisa memberi nasihat. Mungkin aku akan lebih awal sadar, tidak perlu menunggu bertahun-tahun agar aku sadar bahwa dulu aku sudah salah padamu.
Kembali lagi bahwa merasa diri paling berhak menerima, paling harus diutamakan bisa merusak hubungan dengan orang lain. Penting tidak penting suatu persoalan sangat berbeda tergantung siapa yang melihatnya. Bagiku dulu kegiatan OSIS & Paskibra itu penting sehingga tugas sekolah pun aku lalaikan. Dan karena aku merasa mengemban tugas dari sekolah maka aku juga merasa bahwa sudah seharusnya semua orang mendukungku.
Namun jika Nurhadi yang melihat. It's not my business
Kenapa pula dia tiba-tiba harus mengerjakan tugas orang lain, yang lebih memilih sibuk mengerjakan sesuatu yang tidak penting.
Sudahlah, intinya merasa diri sendiri paling benar, paling penting, dan mau semua orang menuruti keinginan kita itu bukan sebuah pilihan yang bagus. Ada perasaan orang lain yang harus kita jaga, ada hak orang lain yang tidak boleh kita ganggu.
Nurhadi kabarnya sudah sukses berkarier sebagai anggota TNI, terimakasih mas brow, maaf kalau aku dulu menyakitimu.
Semoga ANT ( Aziz, Nurhadi, Teguh ) kelak bisa reunian, geng kecil kita bisa bernostalgia. Setidaknya untuk bermaaf maafan..
Teguh Ujianto
Seperti dipagi ini, ada peristiwa yang mengingatkan aku dengan pertengkaran yang terjadi dimasa lalu, begini ceritanya;
Sewaktu di SLTP, berbagai kesibukan sekolah telah menyita banyak waktuku, sehingga banyak tugas pelajaran yang tidak sempat aku kerjakan. Pada suatu saat ada tugas yang harus segera dikumpulkan, tugas tersebut belum aku kerjakan sementara ada kegiatan yang harus aku ikuti.
Karena merasa bahwa apa yang aku kerjakan ini sangat penting maka aku minta tolong temanku, Nurhadi untuk mengerjakanya. Dan ternyata dia menolak, padahal dia teman duduk satu meja denganku, yang sangat aku harapkan bantuanya.
Aku sangat kesal, tidak bisakah dia mengerti aku yang sangat sibuk ini, (yang merasa apa yang dilakukan sangat penting - sampai tidak mengerjakan tugasnya). Dan kami-pun adu mulut, setelah itu hubunganku dengan Nurhadi menjauh.
Hampir 20 tahun kemudian, hari ini peristiwa tersebut terulang, dengan aku diposisi orang yang dianggap tidak penting. Yang entah bagaimana seolah-olah aku harus membantu orang yang sedang " sangat " sibuk ini.
Nurhadi - andai kau dulu adalah seorang yang bisa memberi nasihat. Mungkin aku akan lebih awal sadar, tidak perlu menunggu bertahun-tahun agar aku sadar bahwa dulu aku sudah salah padamu.
Kembali lagi bahwa merasa diri paling berhak menerima, paling harus diutamakan bisa merusak hubungan dengan orang lain. Penting tidak penting suatu persoalan sangat berbeda tergantung siapa yang melihatnya. Bagiku dulu kegiatan OSIS & Paskibra itu penting sehingga tugas sekolah pun aku lalaikan. Dan karena aku merasa mengemban tugas dari sekolah maka aku juga merasa bahwa sudah seharusnya semua orang mendukungku.
Namun jika Nurhadi yang melihat. It's not my business
Kenapa pula dia tiba-tiba harus mengerjakan tugas orang lain, yang lebih memilih sibuk mengerjakan sesuatu yang tidak penting.
Sudahlah, intinya merasa diri sendiri paling benar, paling penting, dan mau semua orang menuruti keinginan kita itu bukan sebuah pilihan yang bagus. Ada perasaan orang lain yang harus kita jaga, ada hak orang lain yang tidak boleh kita ganggu.
Nurhadi kabarnya sudah sukses berkarier sebagai anggota TNI, terimakasih mas brow, maaf kalau aku dulu menyakitimu.
Semoga ANT ( Aziz, Nurhadi, Teguh ) kelak bisa reunian, geng kecil kita bisa bernostalgia. Setidaknya untuk bermaaf maafan..
Teguh Ujianto
Jumat, 14 Februari 2014
Kisah Masa Lalu " Tlemuk"
Hari ini saya teringat satu kejadian dimasa lalu, saat masih bekerja di penggergajian kayu sebagai mandor.
Pada suatu hari meteran saya raib entah dimana, padahal saya sangat butuh meteran tersebut. Di area penggergajian kayu itu ada seorang tukang kayu, namanya Tlemuk, dan dia punya meteran.
Akhirnya karena butuh, saya pinjam meteranya si Tlemuk. sekali pinjam, begitu selesai dikembalikan.
kemudian butuh lagi, pinjam lagi, dikembalikan lagi. Entah sampai berapa kali saya bolak-balik pinjam meteran sampai suatu saat tiba-tiba Tlemuk emosi, Meteran yang mau saya pinjam dihancurkanya dengan palu. ( untung bukan kepala saya yang dipalu ) Saya sempat kaget, tidak menyangka kalau Tlemuk akan begitu marah "hanya" karena meteranya saya pinjam.
Waktu itu saya sedang sangat butuh meteran, jadi meteran yang sudah remuk itu saya patahin lagi ujungnya ( kurang lebih 1 Meter yang dipakai ). Tlemuk semakin murka, dia pulang. Marah besar dengan saya.
Hampir 10 tahun dan sekarang peristiwa yang mirip terjadi lagi, hanya saja tertukar posisinya. Saya sebagai "Tlemuk" yang diganggu kerjanya. Memang bukan meteran yang jadi biang susuhnya, akan tetapi esensi peristiwanya sangat sama. Kalau Tlemuk sampai menggetok meteran, maka saya melempar stand pot bunga (untung juga gak ada yang kena )
Kini saya sadar, andai saya yang ada diposisi Tlemuk 10 tahun yang lalu, mungkin bukan meteranya yang saya palu, tapi kepala yang ganggu kerja saya itu yang saya palu (berati kepala saya dong). Pikiran saya dulu yang menganggap meminjam itu "hanya" meminjam ternyata salah besar.
No body wants to be disturbed, even only with small things, because small will be very relative, depend on the situation. Tlemuk adalah peristiwa yang terjadi untuk memberi saya pelajaran 10 tahun kemudian
Bahwa saat ini saya sangat ingin bertemu Tlemuk dan minta maaf, dan berterimakasih karena tidak menggetok kepala saya. ( Mudah-mudahan kita berdua panjang umur ya Tlemuk, dan bisa bertemu lagi untuk bermaafan - saya yang minta maaf- maafin aku ya Tlemuk )
Teguh Ujianto
Pada suatu hari meteran saya raib entah dimana, padahal saya sangat butuh meteran tersebut. Di area penggergajian kayu itu ada seorang tukang kayu, namanya Tlemuk, dan dia punya meteran.
Akhirnya karena butuh, saya pinjam meteranya si Tlemuk. sekali pinjam, begitu selesai dikembalikan.
kemudian butuh lagi, pinjam lagi, dikembalikan lagi. Entah sampai berapa kali saya bolak-balik pinjam meteran sampai suatu saat tiba-tiba Tlemuk emosi, Meteran yang mau saya pinjam dihancurkanya dengan palu. ( untung bukan kepala saya yang dipalu ) Saya sempat kaget, tidak menyangka kalau Tlemuk akan begitu marah "hanya" karena meteranya saya pinjam.
Waktu itu saya sedang sangat butuh meteran, jadi meteran yang sudah remuk itu saya patahin lagi ujungnya ( kurang lebih 1 Meter yang dipakai ). Tlemuk semakin murka, dia pulang. Marah besar dengan saya.
Hampir 10 tahun dan sekarang peristiwa yang mirip terjadi lagi, hanya saja tertukar posisinya. Saya sebagai "Tlemuk" yang diganggu kerjanya. Memang bukan meteran yang jadi biang susuhnya, akan tetapi esensi peristiwanya sangat sama. Kalau Tlemuk sampai menggetok meteran, maka saya melempar stand pot bunga (untung juga gak ada yang kena )
Kini saya sadar, andai saya yang ada diposisi Tlemuk 10 tahun yang lalu, mungkin bukan meteranya yang saya palu, tapi kepala yang ganggu kerja saya itu yang saya palu (berati kepala saya dong). Pikiran saya dulu yang menganggap meminjam itu "hanya" meminjam ternyata salah besar.
No body wants to be disturbed, even only with small things, because small will be very relative, depend on the situation. Tlemuk adalah peristiwa yang terjadi untuk memberi saya pelajaran 10 tahun kemudian
Bahwa saat ini saya sangat ingin bertemu Tlemuk dan minta maaf, dan berterimakasih karena tidak menggetok kepala saya. ( Mudah-mudahan kita berdua panjang umur ya Tlemuk, dan bisa bertemu lagi untuk bermaafan - saya yang minta maaf- maafin aku ya Tlemuk )
Teguh Ujianto
Senin, 30 Desember 2013
Kisah 50 Ribu
Esok sudah 2014, Insya Allah..
Hari ini adalah penghujung tahun 2013, tahun yang begitu luar biasa.
Dan dipenghujung tahun ini ada sebuah kisah yang mungkin bisa sekedar mengingatkan kembali betapa tanpaNya aku ini bukan siapa-siapa.
Kisah tersebut tentangku yang suatu hari "kehilangan" uang 50ribu (pecahan 50ribu - the last and only thats piece of money that i have had ) dan aku pun berkaca-kaca, mungkin sudah menangis didalam hati, pasrah menyerahkan semuanya kepada Dia yang memiliki seluruh alam jagad raya ini. ( sayang sekali aku lupa doa apa yang aku panjatkan waktu itu, hanya saja saat itu rasanya tiada lagi sekat yang menghalangi aku, mungkin saat itulah dalam hidupku bisa merasa begitu dekat dengaNya )
--00--
2004 seorang diri, tanpa keluarga dan saudara di Jepara. Namun dikemudian hari bisa dianugerahi banyak teman dan keluarga baru yang begitu luar biasa baiknya.
Setelah kepergian Ibunda menghadap Ilahi sang penguasa seluruh semesta, aku sempat ragu untuk kembali ke Jepara, I dont know what i can do there, kuliah belum selesai, belum ada ijazah yang bisa digunakan untuk mencari pekerjaan kecuali ijazah SMU, with no money and job to get some money. But I have to go..
Aku harus menyelesaikan kuliah, mendapatkan gelar D3 yang sudah aku perjuangkan selama 3 tahun, lebih tepatnya menyelesaikan perjuangan ibunda untuk memberi warisan ilmu kepada putra-putrinya. Tinggal selangkah lagi ibunda, dan engkau sudah lebih dahulu menghadapNya. Tapi pasti itulah yang terbaik untukmu, dan aku yakin engkau bisa melihat buah perjuanganmu dari istanamu saat ini.
Ke Jepara, aku harus segera mendapat kerja, karena aku adalah anak laki-laki yang menanggung beberapa adik yang sekarang menjadi yatim piatu. Dan pula aku harus segera bisa mendapatkan uang untuk biaya hidupku sendiri.
Dengan berbekal uang yang jumlahnya sekedar cukup untuk ongkos bus dan sedikit sisanya, aku berangkat. Beruntung dan sangat beruntung, Allah memberiku jalan dengan memberi teman yang bernama D***, ( hanya Allah saja yang bisa membalas kebaikan Ibunda D*** dan seluruh keluarganya yang sangat-sangat baik, juga teman-teman yang selalu menghibur dan menguatkanku, semoga Almarhumah Ibunda D*** diberi tempat terbaik disisiNya, amin).
Dan Allah memang maha adil, tak menunggu lama ada kesempatan, and i get a job. Waktu itu hitungan gaji bukan untuk membeli mobil atau rumah, hanya sekedar cukup untuk bisa bertahan hidup. Karena tempat tinggal menumpang & makan juga sering menumpang (alhamdulillah masih banyak hamba Allah yang berhati mulia diJepara sana)
Saat itu, setiap piring nasi yang bisa disantap adalah hadiah yang begitu indah, setiap batang rokok yang bisa dihisap adalah teman penghibur lara yang luar biasa.
Saat aku lapar, Allah memberiku hidangan surga penuh kasih, saat aku lara Allah mengirim kepadaku begitu banyak teman penuh canda, kala aku letih berjalan Allah juga yang mengirim mereka untuk meminjami aku kendaraan.
Semoga aku diberi kekuatan untuk mengingat kebaikan-kebaikan kalian teman, kalian saudaraku.
50ribu itu sedikit, tapi bagiku yang waktu itu untuk makan saja sampai harus menumpang, thats so precious, jadi wajar kan kalau aku nangis.
Dan entah bagaimana, setelah lelah batinku menangis, Allah mengembalikan uang itu padaku.
Ternyata uangnya nyelempit dikantong celana. Menangis lagilah aku, bahagia.
Untuk catatan, kalau tidak salah dengan 2,500 waktu itu di Jepara sudah bisa makan kenyang + es teh + sebatang rokok Gudang Garam Filter. Jadi 50 ribu itu bisa untuk bertahan sekitar satu minggu.
--00--
Sampai tiba waktunya aku dipertemukan dengan perusahaan yang bisa memberiku uang yang begitu banyaknya.
dan sampailah aku dihari ini, lupa cara bersyukur..
Dengan rasa dihati bahwa aku berhak mendapatkan lebih dari apa yang telah aku lakukan.
Aku hendak menuntut orang yang Allah beri amanah untuk memuliakan aku, menjadikan aku bisa berdiri tegak sejajar dengan yang lain.
Ya Allah, ampuni aku jika lupa mensyukuri semua nikmat Mu
Bimbing hambaMu ini ya Allah, agar aku bisa selalu berada dijalan lurus
Jalan orang orang-orang mukmin yang Engkau beri nikmat
Bukan jalan orang yang Engkau murkai ataupun engkau sesatkan
Beri hambamu ini kesabaran ya Allah
Engkaulah dulu yang mengangkatku dari keterpurukan
Maka mudahlah bagiMu ya Allah mengangkatku lebih tinggi
Dengan jalan yang tidak bisa aku sangka
Maka lindungilah aku ya Allah, dari nafsu dunia
Amiin..
Dari yatim piatu yang terlunta-lunta dinegeri orang, Allah mengangkatku menjadi seperti sekarang
Yang bisa makan kapanpun tanpa harus menunggu pemberian orang lain
Yang bisa menyewa tempat yang layak untuk ditinggali
Terimakasih ya Allah, segala puji untukMu
Teguh Ujianto
Hari ini adalah penghujung tahun 2013, tahun yang begitu luar biasa.
Dan dipenghujung tahun ini ada sebuah kisah yang mungkin bisa sekedar mengingatkan kembali betapa tanpaNya aku ini bukan siapa-siapa.
Kisah tersebut tentangku yang suatu hari "kehilangan" uang 50ribu (pecahan 50ribu - the last and only thats piece of money that i have had ) dan aku pun berkaca-kaca, mungkin sudah menangis didalam hati, pasrah menyerahkan semuanya kepada Dia yang memiliki seluruh alam jagad raya ini. ( sayang sekali aku lupa doa apa yang aku panjatkan waktu itu, hanya saja saat itu rasanya tiada lagi sekat yang menghalangi aku, mungkin saat itulah dalam hidupku bisa merasa begitu dekat dengaNya )
--00--
2004 seorang diri, tanpa keluarga dan saudara di Jepara. Namun dikemudian hari bisa dianugerahi banyak teman dan keluarga baru yang begitu luar biasa baiknya.
Setelah kepergian Ibunda menghadap Ilahi sang penguasa seluruh semesta, aku sempat ragu untuk kembali ke Jepara, I dont know what i can do there, kuliah belum selesai, belum ada ijazah yang bisa digunakan untuk mencari pekerjaan kecuali ijazah SMU, with no money and job to get some money. But I have to go..
Aku harus menyelesaikan kuliah, mendapatkan gelar D3 yang sudah aku perjuangkan selama 3 tahun, lebih tepatnya menyelesaikan perjuangan ibunda untuk memberi warisan ilmu kepada putra-putrinya. Tinggal selangkah lagi ibunda, dan engkau sudah lebih dahulu menghadapNya. Tapi pasti itulah yang terbaik untukmu, dan aku yakin engkau bisa melihat buah perjuanganmu dari istanamu saat ini.
Ke Jepara, aku harus segera mendapat kerja, karena aku adalah anak laki-laki yang menanggung beberapa adik yang sekarang menjadi yatim piatu. Dan pula aku harus segera bisa mendapatkan uang untuk biaya hidupku sendiri.
Dengan berbekal uang yang jumlahnya sekedar cukup untuk ongkos bus dan sedikit sisanya, aku berangkat. Beruntung dan sangat beruntung, Allah memberiku jalan dengan memberi teman yang bernama D***, ( hanya Allah saja yang bisa membalas kebaikan Ibunda D*** dan seluruh keluarganya yang sangat-sangat baik, juga teman-teman yang selalu menghibur dan menguatkanku, semoga Almarhumah Ibunda D*** diberi tempat terbaik disisiNya, amin).
Dan Allah memang maha adil, tak menunggu lama ada kesempatan, and i get a job. Waktu itu hitungan gaji bukan untuk membeli mobil atau rumah, hanya sekedar cukup untuk bisa bertahan hidup. Karena tempat tinggal menumpang & makan juga sering menumpang (alhamdulillah masih banyak hamba Allah yang berhati mulia diJepara sana)
Saat itu, setiap piring nasi yang bisa disantap adalah hadiah yang begitu indah, setiap batang rokok yang bisa dihisap adalah teman penghibur lara yang luar biasa.
Saat aku lapar, Allah memberiku hidangan surga penuh kasih, saat aku lara Allah mengirim kepadaku begitu banyak teman penuh canda, kala aku letih berjalan Allah juga yang mengirim mereka untuk meminjami aku kendaraan.
Semoga aku diberi kekuatan untuk mengingat kebaikan-kebaikan kalian teman, kalian saudaraku.
50ribu itu sedikit, tapi bagiku yang waktu itu untuk makan saja sampai harus menumpang, thats so precious, jadi wajar kan kalau aku nangis.
Dan entah bagaimana, setelah lelah batinku menangis, Allah mengembalikan uang itu padaku.
Ternyata uangnya nyelempit dikantong celana. Menangis lagilah aku, bahagia.
Untuk catatan, kalau tidak salah dengan 2,500 waktu itu di Jepara sudah bisa makan kenyang + es teh + sebatang rokok Gudang Garam Filter. Jadi 50 ribu itu bisa untuk bertahan sekitar satu minggu.
--00--
Sampai tiba waktunya aku dipertemukan dengan perusahaan yang bisa memberiku uang yang begitu banyaknya.
dan sampailah aku dihari ini, lupa cara bersyukur..
Dengan rasa dihati bahwa aku berhak mendapatkan lebih dari apa yang telah aku lakukan.
Aku hendak menuntut orang yang Allah beri amanah untuk memuliakan aku, menjadikan aku bisa berdiri tegak sejajar dengan yang lain.
Ya Allah, ampuni aku jika lupa mensyukuri semua nikmat Mu
Bimbing hambaMu ini ya Allah, agar aku bisa selalu berada dijalan lurus
Jalan orang orang-orang mukmin yang Engkau beri nikmat
Bukan jalan orang yang Engkau murkai ataupun engkau sesatkan
Beri hambamu ini kesabaran ya Allah
Engkaulah dulu yang mengangkatku dari keterpurukan
Maka mudahlah bagiMu ya Allah mengangkatku lebih tinggi
Dengan jalan yang tidak bisa aku sangka
Maka lindungilah aku ya Allah, dari nafsu dunia
Amiin..
Dari yatim piatu yang terlunta-lunta dinegeri orang, Allah mengangkatku menjadi seperti sekarang
Yang bisa makan kapanpun tanpa harus menunggu pemberian orang lain
Yang bisa menyewa tempat yang layak untuk ditinggali
Terimakasih ya Allah, segala puji untukMu
Teguh Ujianto
Sabtu, 10 Agustus 2013
Kita masih "anak-anak"
Naura berusia sekitar 2 tahun, dia suka sekali meniru ayah dan ibunya, baik itu perkataan maupun perbuatan. Ketika ayahnya sholat dia meniru gerakan sholatnya, dengan gerakan sesuka hatinya. Ketika ayahnya membaca al quran, dia ikut duduk dipangkuannya dan mulai menjamah alquran tersebut, tetapi tidak untuk dibaca, baginya membolak balik halamanya, bermain kertas itu lebih menarik dan diusianya memang itulah yang bisa dia lakukan.
Ayah Naura tentu saja tidak mengizinkan hal tersebut, segera saja alquran tersebut diamankan, ditaruh ditempat yang aman agar tidak dirobek-robek atau diperlakukan tidak selayaknya oleh Naura. Hal ini tentu membuat Naura sedih dan kecewa, dia menangis. Apa yang diinginkanya tidak diperbolehkan oleh ayahnya
Kita juga kadang seperti balita berumur 2 tahun, kecewa ketika apa yang kita cita-citakan tidak tercapai. Ingin kaya, tetapi malah miskin, jauh dari kecukupan. Ingin punya pangkat namun hanya mentok jadi bawahan. Ingin mulia, apa daya cuma rakyat jelata yang dipandang hina.
Kita sudah memohon, berdoa dan berikhtiar agar kita didunia ini bisa kaya dan bergelimang harta, namun belum juga dikabulkan doa-doa kita itu, lantas muncul pertanyaan , kenapa?
Maka bersabarlah kawan, tunggulah hingga dirimu "dewasa" dan mengerti untuk apa semua hal yang kamu cita-citakan itu digunakan?
Bagi sang ayah, dia sangat mengharapkan sekali Naura bisa dekat dengan alquran, bisa membaca alquran, apalagi bisa hidup dengan mengamalkan alquran. Sungguh itulah yang dia harapkan, akan tetapi untuk saat ini Naura hanya bisa memeganya, mendengar ayahnya membacanya, dan sesekali ikut membolak balikan lembar halamanya. Kelak jika tiba masanya ayahnyalah yang akan berjuang dengan segenap cara untuk membuat hidup Naura bernafaskan alquran.
Ayah Naura tentu saja tidak mengizinkan hal tersebut, segera saja alquran tersebut diamankan, ditaruh ditempat yang aman agar tidak dirobek-robek atau diperlakukan tidak selayaknya oleh Naura. Hal ini tentu membuat Naura sedih dan kecewa, dia menangis. Apa yang diinginkanya tidak diperbolehkan oleh ayahnya
Kita juga kadang seperti balita berumur 2 tahun, kecewa ketika apa yang kita cita-citakan tidak tercapai. Ingin kaya, tetapi malah miskin, jauh dari kecukupan. Ingin punya pangkat namun hanya mentok jadi bawahan. Ingin mulia, apa daya cuma rakyat jelata yang dipandang hina.
Kita sudah memohon, berdoa dan berikhtiar agar kita didunia ini bisa kaya dan bergelimang harta, namun belum juga dikabulkan doa-doa kita itu, lantas muncul pertanyaan , kenapa?
Maka bersabarlah kawan, tunggulah hingga dirimu "dewasa" dan mengerti untuk apa semua hal yang kamu cita-citakan itu digunakan?
Bagi sang ayah, dia sangat mengharapkan sekali Naura bisa dekat dengan alquran, bisa membaca alquran, apalagi bisa hidup dengan mengamalkan alquran. Sungguh itulah yang dia harapkan, akan tetapi untuk saat ini Naura hanya bisa memeganya, mendengar ayahnya membacanya, dan sesekali ikut membolak balikan lembar halamanya. Kelak jika tiba masanya ayahnyalah yang akan berjuang dengan segenap cara untuk membuat hidup Naura bernafaskan alquran.
Kamis, 27 Desember 2012
Paimin & Paijo (P&P 2) ;
Mendadak Sopir Truck
Pengiriman mebel tadi sore agak berbeda dari pengiriman-pengiriman sebelumnya, karena selain kirim Paijo punya misi khusus untuk berdiplomasi dengan seorang customernya.
Sebut saja customernya Madam Saminem ( Madam S ), orang bule. Beliau ini merasa kurang puas dengan mebel pesananya yang terlihat berkabut ( mblawus ), dan minta agar semua mebel yang sudah dikirim ditarik semua untuk disemprot ulang, sebenarnya Paimin yang dulu bertugas menyerahterimakan mebel itu sudah menjelaskan, bahwa tidak ada yang salah dengan mebel pesanan Madam S tersebut, memang seperti itulah penampilan mebel dengan finishing bertop coat doff.
Tapi dasarnya sudah kecewa, penjelasan Paimin tidak bisa diterima, Madam S tetap minta mebelnya ditarik.
Paijo yang merasa kemampuan ngecap bahasa inggrisnya nya lebih baik, sedikit nyiyir dengan Paimin dan menganggap bahwa Paimin lah yang kurang bisa memberi penjelasan pada Madam S.
''kabeh ki karek pinter-pintere le ngomong to kang, wes ngko aku bae seng maju, mugo-mugo Madam S kiye biso ngerteni yen pancen mengkono kuwi benere"
" Aku wes njelaske yo Bredher, ming dasare wonge pancen wes ra gelem yo tetep ora gelem "
Paijo tetap bergeming, dia yakin jika dia yang turun gunung urusanya bakal lancar
Dan tadi sore misi diplomasi pun dijalankan, Paimin, Paijo & sang Driver Truck Paidi berangkat, begitu mereka sampai dilokasi dan bersua langsung dengan Madam S, paijo langsung beraksi.
‘’Gud afternoon Madam, How are you? I will explain to you how come the furniture look mBlawus..Paijo mengawali penjelasanya dengan Mantab, tetapi setelah beberapa kali menjelaskan jawaban Madam tetap sama “Could you please, semprot ulang ini barang and make sure no more fogs on the surface”
Dan Paijopun dengan muka lesu harus menjawab, “Yes Madam, we will refinish it..”
Gagal sudah Diplomasi Paijo, disepanjang jalan pulang Paimin tampak begitu puas menertawakan kegagalan Paijo ini ‘’ wes ra kacek, percuma le turun gunung mesone yo mbalik barange, ngono iku mending aku wae seng mangkat njipuk barange, haha..”
Paijo makin diam, dia malu sama Paimin karena sempat ngeyel & merasa lebih hebat dari Paimin sebelumnya. Paidi sambil menyetir juga ikut menertawakan kegagalan Paijo “ Kang Min, biasane yen wong gagal ki kudu dihukum, piye nek mampir es Klamud wae kang, ngko Paijo seng Mbayari’’
Paijo makin dongkol, sudah gagal malah dipaksa ntraktir . Tapi demi gengsinya sebagai sang Diplomat permintaan tersebut dia iyakan juga ‘’ Yowes, nek ming Es klamud wae tah aku iseh sanggup, dasare tanggal nom bar gajian, mandeko tuku, ngko aku seng mbayari’’
Disebuah lapak Es Klamud di tepi jalan arah pulang, truck berhenti. Dengan senyum renyah Paidi dan Paimin segera menyapa sang penjual Es yang ternyata teman satu club motornya Paidi.
Paijo ikut turun, tapi masih lesu. Selesai menikmati Es Klamud paijo makin lesu karena ternyata Paidi & Paimin masing masing nambah satu gelas. Sambil menggerutu dia menyerahkan beberapa lembar lima ribuan kepada sang penjual Es.
“Jo, gawanen truck-e..”
Paijo agak terkejut ketika Paidi menyerahkan kunci sambil memintanya yang jadi Sopir, tapi sekaligus menjadi bersemangat. Seumur umur dia belum pernah jadi Sopir Truck, kalau sekedar maju mundur diparkiran sih sering, tapi melaju dijalan memang belum pernah..“kesempatan langka nih..”
Walau agak grogi aksi Sopir dadakan inipun dimulainya, begitu naik ke Seat Driver Paijo mencoba mencari posisi duduk yang senyaman mungkin, handle Stir dipegangnya mantap..pastikan gigi netral dan cekikik cekikkik brummm….Truck Isuzu NHR 55 sukses dinyalakan..
Paidi sudah naik, mengambil posisi duduk ditengah, sementara Paimin di dekat pintu, Safety Belt sudah terpasang dan truck pun siap berangkat. Hand rem dilepas, kopling dinjak full sembari tuas prosneleng dimasukan ke posisi gigi satu, siap berangkat.
Ketika akan menyalakan sein , paijo salah menekan tuas, bukan sein yang menyala tapi wiper yang berayun ayun di kaca depan. “ lho, hehe..” Paidi & Paimin cekikikan
Sambil tersenyum Paijo melirik mencari tuas sein yang ternyata ada disebelah kanan bawah stir. Berangkat..
Disepanjang sisa perjalanan pulang itu Paijo sudah tidak lagi memikirkan kegagalanya, dia asyik menikmati pengalamnya menjadi sopir truck , kesempatan yang tidak semua orang bisa menikmatinya kakinya berusaha sehalus mungkin saat menginjak gas, berusaha sehalus mungkin saat oper gigi, semua dinikmatinya, menikmati sensasi ketegangan saat merayap dijalur padat Balikpapan, saat berbagi jalan dengan mobil dan motor yang terlihat pendek dari tempatnya mengemudi.
Paijo memang gagal menjadi diplomat, tapi dia sudah sukses; menjadi Sopir Truck, walupun cuma dadakan.
Teguh Ujianto
Pengiriman mebel tadi sore agak berbeda dari pengiriman-pengiriman sebelumnya, karena selain kirim Paijo punya misi khusus untuk berdiplomasi dengan seorang customernya.
Sebut saja customernya Madam Saminem ( Madam S ), orang bule. Beliau ini merasa kurang puas dengan mebel pesananya yang terlihat berkabut ( mblawus ), dan minta agar semua mebel yang sudah dikirim ditarik semua untuk disemprot ulang, sebenarnya Paimin yang dulu bertugas menyerahterimakan mebel itu sudah menjelaskan, bahwa tidak ada yang salah dengan mebel pesanan Madam S tersebut, memang seperti itulah penampilan mebel dengan finishing bertop coat doff.
Tapi dasarnya sudah kecewa, penjelasan Paimin tidak bisa diterima, Madam S tetap minta mebelnya ditarik.
Paijo yang merasa kemampuan ngecap bahasa inggrisnya nya lebih baik, sedikit nyiyir dengan Paimin dan menganggap bahwa Paimin lah yang kurang bisa memberi penjelasan pada Madam S.
''kabeh ki karek pinter-pintere le ngomong to kang, wes ngko aku bae seng maju, mugo-mugo Madam S kiye biso ngerteni yen pancen mengkono kuwi benere"
" Aku wes njelaske yo Bredher, ming dasare wonge pancen wes ra gelem yo tetep ora gelem "
Paijo tetap bergeming, dia yakin jika dia yang turun gunung urusanya bakal lancar
Dan tadi sore misi diplomasi pun dijalankan, Paimin, Paijo & sang Driver Truck Paidi berangkat, begitu mereka sampai dilokasi dan bersua langsung dengan Madam S, paijo langsung beraksi.
‘’Gud afternoon Madam, How are you? I will explain to you how come the furniture look mBlawus..Paijo mengawali penjelasanya dengan Mantab, tetapi setelah beberapa kali menjelaskan jawaban Madam tetap sama “Could you please, semprot ulang ini barang and make sure no more fogs on the surface”
Dan Paijopun dengan muka lesu harus menjawab, “Yes Madam, we will refinish it..”
Gagal sudah Diplomasi Paijo, disepanjang jalan pulang Paimin tampak begitu puas menertawakan kegagalan Paijo ini ‘’ wes ra kacek, percuma le turun gunung mesone yo mbalik barange, ngono iku mending aku wae seng mangkat njipuk barange, haha..”
Paijo makin diam, dia malu sama Paimin karena sempat ngeyel & merasa lebih hebat dari Paimin sebelumnya. Paidi sambil menyetir juga ikut menertawakan kegagalan Paijo “ Kang Min, biasane yen wong gagal ki kudu dihukum, piye nek mampir es Klamud wae kang, ngko Paijo seng Mbayari’’
Paijo makin dongkol, sudah gagal malah dipaksa ntraktir . Tapi demi gengsinya sebagai sang Diplomat permintaan tersebut dia iyakan juga ‘’ Yowes, nek ming Es klamud wae tah aku iseh sanggup, dasare tanggal nom bar gajian, mandeko tuku, ngko aku seng mbayari’’
Disebuah lapak Es Klamud di tepi jalan arah pulang, truck berhenti. Dengan senyum renyah Paidi dan Paimin segera menyapa sang penjual Es yang ternyata teman satu club motornya Paidi.
Paijo ikut turun, tapi masih lesu. Selesai menikmati Es Klamud paijo makin lesu karena ternyata Paidi & Paimin masing masing nambah satu gelas. Sambil menggerutu dia menyerahkan beberapa lembar lima ribuan kepada sang penjual Es.
“Jo, gawanen truck-e..”
Paijo agak terkejut ketika Paidi menyerahkan kunci sambil memintanya yang jadi Sopir, tapi sekaligus menjadi bersemangat. Seumur umur dia belum pernah jadi Sopir Truck, kalau sekedar maju mundur diparkiran sih sering, tapi melaju dijalan memang belum pernah..“kesempatan langka nih..”
Walau agak grogi aksi Sopir dadakan inipun dimulainya, begitu naik ke Seat Driver Paijo mencoba mencari posisi duduk yang senyaman mungkin, handle Stir dipegangnya mantap..pastikan gigi netral dan cekikik cekikkik brummm….Truck Isuzu NHR 55 sukses dinyalakan..
Paidi sudah naik, mengambil posisi duduk ditengah, sementara Paimin di dekat pintu, Safety Belt sudah terpasang dan truck pun siap berangkat. Hand rem dilepas, kopling dinjak full sembari tuas prosneleng dimasukan ke posisi gigi satu, siap berangkat.
Ketika akan menyalakan sein , paijo salah menekan tuas, bukan sein yang menyala tapi wiper yang berayun ayun di kaca depan. “ lho, hehe..” Paidi & Paimin cekikikan
Sambil tersenyum Paijo melirik mencari tuas sein yang ternyata ada disebelah kanan bawah stir. Berangkat..
Disepanjang sisa perjalanan pulang itu Paijo sudah tidak lagi memikirkan kegagalanya, dia asyik menikmati pengalamnya menjadi sopir truck , kesempatan yang tidak semua orang bisa menikmatinya kakinya berusaha sehalus mungkin saat menginjak gas, berusaha sehalus mungkin saat oper gigi, semua dinikmatinya, menikmati sensasi ketegangan saat merayap dijalur padat Balikpapan, saat berbagi jalan dengan mobil dan motor yang terlihat pendek dari tempatnya mengemudi.
Paijo memang gagal menjadi diplomat, tapi dia sudah sukses; menjadi Sopir Truck, walupun cuma dadakan.
Teguh Ujianto
Paimin & Paijo (P&P 1);
Ora Terus Terang
Sore-sore bubar mbegawe, Paimin lan Paijo ngadeg neng mburi toko panggone kerjo, sajake wong loro mau lagi do ndongeng babagan proyek pembangunan ruko ing sak sisihane toko, koyo mengkene dongengane;
Paimin; Jo, deloken tah ruko sebelah ku, elok yo wes dadi semono duwure
Paijo; Iyo kang, kabar seng aku krungu bakal untung besar iku seng nduwe
Paimin; Po iyo to, jare sopo iku?
Paijo; Iyo, jare Bose awake dewe kang, deke wes tekok langsung karo pemboronge, sampean reti ora, ruko sebrang dalan iku malah wes sold out..
Paimin; wah manteb iku..lha trus jare bose kapan tokone iki arep dibangun?mosok seprono seprene ra sido-sido digawe
Paijo; ora reti aku kang, lha wong ketoke bose malah arep ra sido mbangun kok, arep digawe ruko wae jare..
Paimin; Asline kenopo to kok ra sido mbangun ki? heran aku, kan wes ntek duwet akeh nggo mbayar desaine?
Paijo; Yo mboh kabeh kang, aku yo ra reti..mungkin duwite rung cukup kang
Wong loro banjur meneng sakududan, nek wes nyrempet bab duwet pancet wong loro mau ra iso omongan dowo-dowo, soale nduwene duwet yo mung cekak, bareng wes katek olehe mikir karo ulat temen Paimin banjur lanjut ngomong,
Paimin; Masalahe bose ki ra gelem terus terang kok
Paijo; Maksude?
Paijo durung mudeng maksud omongane Paimin seng koyo mengkene, tapi deke wes kroso nek Paimin iki arep nggluweh,
Paimin; Yo nek pancen dwete kurang, jane ngomong wae karo aku..
Paijo; Trus arep mok silihi ngono??
Paimin; Hehe..
Paijo; Sableng..!!
Hehehe, ampun dipaido nek ora lucu, nembe sadar nek nulis anggo boso jowo yo ternyata angel, malah sampe mbukak google translate gara-gara ra reti boso jowone ''tentang'', cekap semanten, mbok menawi lepat nyuwun pangapunten..
Otnaiju Huget*
Sore-sore bubar mbegawe, Paimin lan Paijo ngadeg neng mburi toko panggone kerjo, sajake wong loro mau lagi do ndongeng babagan proyek pembangunan ruko ing sak sisihane toko, koyo mengkene dongengane;
Paimin; Jo, deloken tah ruko sebelah ku, elok yo wes dadi semono duwure
Paijo; Iyo kang, kabar seng aku krungu bakal untung besar iku seng nduwe
Paimin; Po iyo to, jare sopo iku?
Paijo; Iyo, jare Bose awake dewe kang, deke wes tekok langsung karo pemboronge, sampean reti ora, ruko sebrang dalan iku malah wes sold out..
Paimin; wah manteb iku..lha trus jare bose kapan tokone iki arep dibangun?mosok seprono seprene ra sido-sido digawe
Paijo; ora reti aku kang, lha wong ketoke bose malah arep ra sido mbangun kok, arep digawe ruko wae jare..
Paimin; Asline kenopo to kok ra sido mbangun ki? heran aku, kan wes ntek duwet akeh nggo mbayar desaine?
Paijo; Yo mboh kabeh kang, aku yo ra reti..mungkin duwite rung cukup kang
Wong loro banjur meneng sakududan, nek wes nyrempet bab duwet pancet wong loro mau ra iso omongan dowo-dowo, soale nduwene duwet yo mung cekak, bareng wes katek olehe mikir karo ulat temen Paimin banjur lanjut ngomong,
Paimin; Masalahe bose ki ra gelem terus terang kok
Paijo; Maksude?
Paijo durung mudeng maksud omongane Paimin seng koyo mengkene, tapi deke wes kroso nek Paimin iki arep nggluweh,
Paimin; Yo nek pancen dwete kurang, jane ngomong wae karo aku..
Paijo; Trus arep mok silihi ngono??
Paimin; Hehe..
Paijo; Sableng..!!
Hehehe, ampun dipaido nek ora lucu, nembe sadar nek nulis anggo boso jowo yo ternyata angel, malah sampe mbukak google translate gara-gara ra reti boso jowone ''tentang'', cekap semanten, mbok menawi lepat nyuwun pangapunten..
Otnaiju Huget*
Langganan:
Postingan (Atom)