Ibunda bercerita, sewaktu masih kecil ketika beliau bangun malam sering diajak keluar rumah oleh Mbah Nurjan untuk sekedar melihat bintang.
Mbah Nurjan memberitahu, dialam kubur nanti jika kita semasa hidup taat kepada Allah, maka insya Allah nanti kuburnya diluaskan, seluas langit penuh bintang. Begitu indahnya
Namun sebaliknya, jika kita ingkar semasa hidup didunia, bisa-bisa kubur kita nanti disempitkan. Menakutkan seperti langit mendung gelap gulita, dengan gemuruh guntur yang menyiksa. Naudzubillah
Jika langit cerah penuh bintang, aku teringat ibu. Semoga kuburmu juga seluas langit penuh bintang itu ibu.
Beliau yang berjuang tanpa sempat menyaksikan hasil perjuanganya. Semasa hidup beliau gigih memperjuangkan pendidikan untuk anaknya, sampai akhir hidupnya. Karena beliau yakin bahwa dengan ilmu anak - anaknya akan bisa hidup lebih mulia.
Setidaknya mama keisha sekarang sudah jadi Guru, dan disetiap ilmu yang dipakainya ada nafasmu didalamnya, yang semoga jadi bekalmu juga ibu, karena ilmunya bermanfaat. Aku juga bisa mencari nafkah dengan ilmu yang aku dapat dari sekolah yang aku bisa sekolah disana karena perjuanganmu. Semoga hal ini juga dihitung sebagai amalmu.
Kami putra putrimu hanya bisa mendoakan, semoga engkau bahagia disana ibu, amin..
Teguh Ujianto
Tampilkan postingan dengan label Silsilah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Silsilah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 April 2014
Minggu, 30 Maret 2014
Achmad Ghozali bin Kasbari
Achmad Ghozali bin Kasbari, lahir di desa Sengon, kecamatan Subah Kabupaten Batang - Jawa Tengah tanggal 6 April 1953. Biasa dipanggil Pak Li. Pernah menjadi santri di ponpes Tebu Ireng dan menurut cerita yang pernah beliau sampaikan, berkesempatan menjadi murid Kiai Idris.
Tidak ada penjelasan dari beliau, apakah yang dimaksud Kiai Idris adalah KH Idris Kamali atau bukan. Jika memang guru beliau adalah KH Idris Kamali, maka sungguh sebuah keberuntungan bisa menimba ilmu dari salah satu ulama besar yang sekaligus menantu dari KH Hasyim Asyari tersebut.
Tentang KH Idris Kamali bisa dilihat disini
Beliau, Pak Li mengisahkan, selama di Tebu Ireng beliau ini ikut mengabdi di ndalem kyai, salah satu tugasnya yang saya ingat karena dipraktekan juga dirumah adalah memerah susu kambing. Mengurus ternak memang sudah tidak asing, karena sejak kecil beliau sudah membantu Mbah Bari merawat sapi. Saya ingat suatu ketika ketika hari raya Iedul Adha, ada sapi qurban yang berontak dan membuat orang-orang ketakutan, dengan mantab beliau mendekati sapi tersebut, memegang tali kekang dan mengelus kepalanya. Alkhamdulillah atas pertolongan Allah, sapi tersebut berubah menjadi tenang.
Beliau ketika mengajar membaca alquran sangat tegas, dengan sistem sima'an. Salah sedikit saja langsung ditegur sampai dipukul kepalanya ( pakai bantal ). Sampai nangis-nangis saya belajar sama beliau ini. Dan beliau menuturkan seperti itulah dulu Kiai Idris mengajarinya. Nggak sampai dipukul, Kiai Idris dehem saja para santri sudah ketakutan.
Oleh-oleh beliau dari Tebu Ireng yang lain adalah Pencak Silat. Beliau bisa menaklukan orang yang menyerangnya dengan hanya tiga jurus ( tarik, banting, kunci ). Dan senjatanya bukanlah pedang, tapi sarung. Banyak cerita mengenai kehebatan ilmu kanuragan beliau ini. Saya pernah minta satu jurus, dan ketika saya praktekan pada saat sambung (latihan) sangat ampuh & mengena dengan telak.
Namun dibalik banyaknya cerita kesaktian beliau, Pak Li hanya hamba Allah yang lemah. Yang mengajarkan kepada anaknya bahwa tiada daya upaya & kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan Allah saja.
Ketika beliau berdakwah, mengajak warga desa Jrakah Payung khususnya dusun Wonoharjo untuk lebih giat beribadah. Beliau menggunakan pendekatan yang sangat mendasar dalam berkomunikasi dan menyampaikan dakwahnya.
Pada awalnya warga disana enggan untuk beribadah karena banyak alasan, salah satunya mereka pesimis. Tidak akan bisa masuk surga karena belum bisa melaksanakan ibadah dengan benar, maka untuk menarik minat & memberi semangat bapak-bapak dan ibu-ibu yang usianya sudah lanjut beliau memberikan kabar gembira bahwa semua umat islam Insya Allah masuk surga.
Akhirnya dengan hidayah Allah, tergeraklah para penduduk untuk mulai belajar, dan memang betul bahwa belajar diwaktu tua itu susahnya bukan main. Lidahpun sudah kelu sampai-sampai misalnya mengucapkan "laayaghfiru" berubah menjadi "layar biru".. ya Allah..
Perkembangan kegiatan ibadah warga dusun Wonoharjo ini begitu luar biasa, jika sekarang anda berkunjung kekampung tersebut, akan anda jumpai sebuah masjid ( Masjid Nurul Iman ) yang berada ditengah kampung tersebut. Terakhir saya kesana jamaah sholat Jum'atnya sudah banyak.
Saya ingat, dulu masjid ini hanya mushola. Jika mau sholat Jum'at kami harus kemasjid besar yang letaknya cukup jauh. Karena letak masjid besar ini jauh, maka banyak orang yang jadi enggan sholat jum'at. Akhirnya para tokoh adat Wonoharjo memutuskan melaksanakan sholat jum'at di Mushola Nurul Iman ini. Dengan pak Li salah satunya, sebagai imam & khotib perintisnya.
Dimasa awal pelaksanaan sholat Jum'at ini, bukan tanpa halangan dan ujian, namun dengan keteguhan hatinya beliau tetap meneruskan perjuanganya.
Dimasa awal, jamaahnya mungkin tidak mencapai 40 orang, tapi beliau tetap teguh. Bahkan meneguhkan lagi, andaipun tidak ada jamaahnya maka beliau akan Adzan sendiri, khutbah sendiri dan jadi imam sendiri. Jika ada yang mengatakan sholatnya tidak sah, tidak dapat pahala. Maka akan dipersilahkan oleh beliau, silahkan ambil pahalanya tapi beliau akan tetap melaksanakan Sholat Jum'at di Nurul Iman.
Pak Li mungkin akan tersenyum saat ini melihat bahwa keteguhanya ternyata membuka jalan bagi banyak orang untuk bisa lebih mudah beribadah sholat Jum'at. Warga Wonoharjo bahu membahu membangun mushola Nurul Iman menjadi Masjid yang indah. Diwaktu Jum'at jamaahnya tumpah ruah.
Semoga perjuangan beliau, bisa menjadi amal sholih yang bisa dijadikan bekal dialam kuburnya. Amin..
Beliau wafat di Sengon Hari Minggu Wage 19 November 2000 dan dimakamkan di TPU desa Sengon, didekat pusara Mbah Bari
Mungkin beliau keras semasa hidupnya, dan banyak salahnya juga, dan jika beliau belum sempat minta maaf, bagi yang kenal mohon dimaafkan segala salah & khilafnya. Semoga semua amal kebajikanya diterima dan dosa-dosanya diampuni Allah SWT, Amin..
Teguh Ujianto
Tidak ada penjelasan dari beliau, apakah yang dimaksud Kiai Idris adalah KH Idris Kamali atau bukan. Jika memang guru beliau adalah KH Idris Kamali, maka sungguh sebuah keberuntungan bisa menimba ilmu dari salah satu ulama besar yang sekaligus menantu dari KH Hasyim Asyari tersebut.
Tentang KH Idris Kamali bisa dilihat disini
Beliau, Pak Li mengisahkan, selama di Tebu Ireng beliau ini ikut mengabdi di ndalem kyai, salah satu tugasnya yang saya ingat karena dipraktekan juga dirumah adalah memerah susu kambing. Mengurus ternak memang sudah tidak asing, karena sejak kecil beliau sudah membantu Mbah Bari merawat sapi. Saya ingat suatu ketika ketika hari raya Iedul Adha, ada sapi qurban yang berontak dan membuat orang-orang ketakutan, dengan mantab beliau mendekati sapi tersebut, memegang tali kekang dan mengelus kepalanya. Alkhamdulillah atas pertolongan Allah, sapi tersebut berubah menjadi tenang.
Beliau ketika mengajar membaca alquran sangat tegas, dengan sistem sima'an. Salah sedikit saja langsung ditegur sampai dipukul kepalanya ( pakai bantal ). Sampai nangis-nangis saya belajar sama beliau ini. Dan beliau menuturkan seperti itulah dulu Kiai Idris mengajarinya. Nggak sampai dipukul, Kiai Idris dehem saja para santri sudah ketakutan.
Oleh-oleh beliau dari Tebu Ireng yang lain adalah Pencak Silat. Beliau bisa menaklukan orang yang menyerangnya dengan hanya tiga jurus ( tarik, banting, kunci ). Dan senjatanya bukanlah pedang, tapi sarung. Banyak cerita mengenai kehebatan ilmu kanuragan beliau ini. Saya pernah minta satu jurus, dan ketika saya praktekan pada saat sambung (latihan) sangat ampuh & mengena dengan telak.
Namun dibalik banyaknya cerita kesaktian beliau, Pak Li hanya hamba Allah yang lemah. Yang mengajarkan kepada anaknya bahwa tiada daya upaya & kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan Allah saja.
Ketika beliau berdakwah, mengajak warga desa Jrakah Payung khususnya dusun Wonoharjo untuk lebih giat beribadah. Beliau menggunakan pendekatan yang sangat mendasar dalam berkomunikasi dan menyampaikan dakwahnya.
Pada awalnya warga disana enggan untuk beribadah karena banyak alasan, salah satunya mereka pesimis. Tidak akan bisa masuk surga karena belum bisa melaksanakan ibadah dengan benar, maka untuk menarik minat & memberi semangat bapak-bapak dan ibu-ibu yang usianya sudah lanjut beliau memberikan kabar gembira bahwa semua umat islam Insya Allah masuk surga.
Akhirnya dengan hidayah Allah, tergeraklah para penduduk untuk mulai belajar, dan memang betul bahwa belajar diwaktu tua itu susahnya bukan main. Lidahpun sudah kelu sampai-sampai misalnya mengucapkan "laayaghfiru" berubah menjadi "layar biru".. ya Allah..
Perkembangan kegiatan ibadah warga dusun Wonoharjo ini begitu luar biasa, jika sekarang anda berkunjung kekampung tersebut, akan anda jumpai sebuah masjid ( Masjid Nurul Iman ) yang berada ditengah kampung tersebut. Terakhir saya kesana jamaah sholat Jum'atnya sudah banyak.
Saya ingat, dulu masjid ini hanya mushola. Jika mau sholat Jum'at kami harus kemasjid besar yang letaknya cukup jauh. Karena letak masjid besar ini jauh, maka banyak orang yang jadi enggan sholat jum'at. Akhirnya para tokoh adat Wonoharjo memutuskan melaksanakan sholat jum'at di Mushola Nurul Iman ini. Dengan pak Li salah satunya, sebagai imam & khotib perintisnya.
Dimasa awal pelaksanaan sholat Jum'at ini, bukan tanpa halangan dan ujian, namun dengan keteguhan hatinya beliau tetap meneruskan perjuanganya.
Dimasa awal, jamaahnya mungkin tidak mencapai 40 orang, tapi beliau tetap teguh. Bahkan meneguhkan lagi, andaipun tidak ada jamaahnya maka beliau akan Adzan sendiri, khutbah sendiri dan jadi imam sendiri. Jika ada yang mengatakan sholatnya tidak sah, tidak dapat pahala. Maka akan dipersilahkan oleh beliau, silahkan ambil pahalanya tapi beliau akan tetap melaksanakan Sholat Jum'at di Nurul Iman.
Pak Li mungkin akan tersenyum saat ini melihat bahwa keteguhanya ternyata membuka jalan bagi banyak orang untuk bisa lebih mudah beribadah sholat Jum'at. Warga Wonoharjo bahu membahu membangun mushola Nurul Iman menjadi Masjid yang indah. Diwaktu Jum'at jamaahnya tumpah ruah.
Semoga perjuangan beliau, bisa menjadi amal sholih yang bisa dijadikan bekal dialam kuburnya. Amin..
Beliau wafat di Sengon Hari Minggu Wage 19 November 2000 dan dimakamkan di TPU desa Sengon, didekat pusara Mbah Bari
Mungkin beliau keras semasa hidupnya, dan banyak salahnya juga, dan jika beliau belum sempat minta maaf, bagi yang kenal mohon dimaafkan segala salah & khilafnya. Semoga semua amal kebajikanya diterima dan dosa-dosanya diampuni Allah SWT, Amin..
Teguh Ujianto
Selasa, 18 Februari 2014
Silaturahmi ke Samboja ; Semanis Salak Pondoh
Hari jumat minggu lalu, bertiga dengan istri dan anak, kami ke Samboja. Silaturahmi ke rumah "pakdhe Is"
Beliau ini adalah kerabat dari Bani Achmad, sedangkan kami sendiri dari Bani Nurjan.
Entah bagaimana ceritanya, dahulu kala mbah Nurjan dan mbah Achmad ini berikrar untuk menjadi satu keluarga. Jadi sebagai generasi penerus kamipun tetap melanjutkan hubungan silaturahmi para embah kami itu.
Pakdhe Is adalah generasi ketiga ( cucu mbah Achmad ), saya generasi ke empat ( buyut mbah Nurjan ).
Setiap tahun, biasanya hari ketiga setelah Iedul Fitri dua keluarga besar ini melakukan reuni. Tempatnya bergiliran & bergantian, jika tahun ini diadakan dirumah keluarga Bani Nurjan, maka tahun depan di salah satu rumah keluarga Bani achmad.
Walaupun belum pernah bertemu sebelumnya, dengan hanya tahu bahwa saya ini adalah 'keponakanya', maka pakdhe Is mencari saya, rasanya bahagia sekali manakala tahu ada orang yang belum pernah bertemu tapi begitu peduli , sampai sampai pada saat pertama bertemu dengan beliau saya hampir menangis (mungkin sudah menangis).
Moment itu rasanya luar biasa, itulah mungkin salah satu keindahan dari silaturahmi, menjaga hubungan kekeluargaan. Dan dari beliau akhirnya saya diperkenalkan dengan saudara-saudara yang lain yang ada di Balikpapan. Hebatnya lagi dari garis bani Achmad ini banyak sekali yang sukses & berpendidikan. Sementara dari bani Nurjan ini boleh dibilang tertinggal jauh.
Entahlah, mungkin dahulu mbah Nurjan melihat bahwa mbah Achmad ini nantinya akan punya keturunan yang hebat-hebat, makanya beliau nyedulur. Setidaknya mungkin agar kami sebagai keturunanya belajar tentang bagaimana mereka begitu peduli dengan pendidikan, bagaimana hidup dengan visi, dan bagaimana tetap mau peduli dengan yang saudara yang sedang berjuang, dengan membantunya, nyuluri agar semua keluarganya bisa sukses. Dan tetap membumi meski sudah membumbung tinggi.
Pakdhe Is ini ternyata terkenal juga, berikut ini ada salah satu tulisan tentang beliau ;
SAMBOJA
- Salak Pondoh, berbentuk kecil dengan daging buah yang kenyal serta
tidak menempel dengan biji, juga rasanya yang sangat manis, dan berasal
dari Pulau Jawa, ternyata dapat tumbuh subur di Kecamatan Samaboja
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pengembangnya adalah Kelompok Tani
Tunas Madani (TM).
Menurut
Sutiarso, pada saat sekarang penjualan hasil panen salak tidak
mengalami kendala, hargapun cukup tinggi satu kilo salak segar dijual
dengan harga Rp. 8 ribu s/d Rp.10 ribu, selain dijual sendiri terkadang
ada tengkulak yang datang langsung ke kebun salak milik kelompok
taninya.
Beliau ini adalah kerabat dari Bani Achmad, sedangkan kami sendiri dari Bani Nurjan.
Entah bagaimana ceritanya, dahulu kala mbah Nurjan dan mbah Achmad ini berikrar untuk menjadi satu keluarga. Jadi sebagai generasi penerus kamipun tetap melanjutkan hubungan silaturahmi para embah kami itu.
Pakdhe Is adalah generasi ketiga ( cucu mbah Achmad ), saya generasi ke empat ( buyut mbah Nurjan ).
Setiap tahun, biasanya hari ketiga setelah Iedul Fitri dua keluarga besar ini melakukan reuni. Tempatnya bergiliran & bergantian, jika tahun ini diadakan dirumah keluarga Bani Nurjan, maka tahun depan di salah satu rumah keluarga Bani achmad.
Walaupun belum pernah bertemu sebelumnya, dengan hanya tahu bahwa saya ini adalah 'keponakanya', maka pakdhe Is mencari saya, rasanya bahagia sekali manakala tahu ada orang yang belum pernah bertemu tapi begitu peduli , sampai sampai pada saat pertama bertemu dengan beliau saya hampir menangis (mungkin sudah menangis).
Moment itu rasanya luar biasa, itulah mungkin salah satu keindahan dari silaturahmi, menjaga hubungan kekeluargaan. Dan dari beliau akhirnya saya diperkenalkan dengan saudara-saudara yang lain yang ada di Balikpapan. Hebatnya lagi dari garis bani Achmad ini banyak sekali yang sukses & berpendidikan. Sementara dari bani Nurjan ini boleh dibilang tertinggal jauh.
Entahlah, mungkin dahulu mbah Nurjan melihat bahwa mbah Achmad ini nantinya akan punya keturunan yang hebat-hebat, makanya beliau nyedulur. Setidaknya mungkin agar kami sebagai keturunanya belajar tentang bagaimana mereka begitu peduli dengan pendidikan, bagaimana hidup dengan visi, dan bagaimana tetap mau peduli dengan yang saudara yang sedang berjuang, dengan membantunya, nyuluri agar semua keluarganya bisa sukses. Dan tetap membumi meski sudah membumbung tinggi.
Pakdhe Is ini ternyata terkenal juga, berikut ini ada salah satu tulisan tentang beliau ;
Agrowisata Salak Pondoh
SAMBOJA
- Salak Pondoh, berbentuk kecil dengan daging buah yang kenyal serta
tidak menempel dengan biji, juga rasanya yang sangat manis, dan berasal
dari Pulau Jawa, ternyata dapat tumbuh subur di Kecamatan Samaboja
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pengembangnya adalah Kelompok Tani
Tunas Madani (TM).
Desa
Bukit Raya, yang berada sekitar 5 Km dari Kecamatan Samboja merupakan
areal yang sangat cocok untuk perkebunan salak. Luas lahan keseluruhan
sekitar 5 hektar, Kelompok Tani Tunas Madani berupaya
untuk menjadikan desa Bukit Raya menjadi lokasi wisata agro, apalagi
akses ke desa Bukit Raya sudah mendapatkan proyek semenisasi oleh
Pemerintah Kukar, beberapa tahun lalu.
Bapak
Sutiarso Ketua Kelompok Tani menceritakan, dirinya tertarik dengan
tanaman salak ini sekitar tahun 1994 lalu, artinya sudah empat belas
tahun ia memelihara kebun salak, bibit pada waktu itu dibelinya langsung
dari Jawa dan ditanam diatas areal tanah 500 meter persegi dan
perkebunan tersebut dikelola sendiri dan belum memiliki kelompok tani.
Sejak tahun 2000 lalu dirinya bersama 5 orang petani salak lainnya
mendirikan kelompok tani, dan kemudian mengembangkan perkebunan salak,
awalnya jenis yang ditanam adalah Salak Pondoh, namun kini dirinya mulai
mengembangkan jenis yang lainnya yaitu salak lumut, salak gula pasir
dan salak madu.
Bibit
yang dikembangkannya selain untuk ditanam di perkebunan sendiri, juga
dijual kepada warga sekitarnya yang juga ingin mengembangkan perkebunan
salak.
“Sementara
ini bibit hanya dijual bagi warga desanya, dengan demikian desa ini
benar-benar menjadi sentral produksi buah salak,” harap Sutiarso.
Menurut
Sutiarso, pada saat sekarang penjualan hasil panen salak tidak
mengalami kendala, hargapun cukup tinggi satu kilo salak segar dijual
dengan harga Rp. 8 ribu s/d Rp.10 ribu, selain dijual sendiri terkadang
ada tengkulak yang datang langsung ke kebun salak milik kelompok
taninya.
Namun
dirinya bersama kelompok taninya, telah mengambil langkah strategis
dengan membuat makanan olahan dari bahan salak semisal wine, kripik dan
dodol. Hal ini didukung pula dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan
Kukar, dengan memberikan bantuan alat pengolahan buah segar (Vacum
Frayer) menjadi makanan olahan lain seperti kripik tahun 2006 lalu.
“Sekarang
salak selain dijual sebagai buah segar, juga telah dijual sebagai
makanan lain yaitu dengan nama Kripik Salak Pondoh produksi Kelompok
Usaha Tunas Madani, dan telah dipasarkan sampai ke Samarinda dan
Balikpapan,” kata Sutiarso yang juga mantan Anggota Bdan Perwakilan Desa
(BPD) Desa Bukit Raya.
Hanya
saja menurutnya yang menjadi kendala adalah pasokan bahan baku, hasil
panen yang berasal dari perkebunan miliknya tidak mencukupi, sehingga
untuk mengatasi agar usahanya tersebut tetap berproduksi, maka selain
membuat makanan berbahan salak, kelompoknya juga membuat makanan
berbahan pisang dan nanas, untuk pisang dan nanas di Samboja sangat
banyak dan mudah didapat.
Dari
hasil, perkebunan salak, kini Sutiarso telah mampu menyekolahkan kedua
anaknya sampai kejenjang perguruan tinggi, bahkan anak sulungnya pada
saat sekarang terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran semester VIII di
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman yang akan menyelesaikan
sarjana kedokterannya menuju coass, kemudian anak ragilnya merupakan
mahasiswi berprestasi di almamater yang sama pada jurusan Teknik
Pertambangan.
Langganan:
Postingan (Atom)
